Ketika Brimob Diminta Membawa Golok ke DPR

Brimob SenjataMemang tidak bisa disangkal, internet secara instant bisa membuat penggunanya mendadak ahli segala hal. Tidak memandang pendidikan, jurusan, atau kompetensi, semua orang cukup bermodal Google bisa menjadi pengamat hukum. Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, ketikkan kata kunci, baca sebentar, gelar ahli hukum bisa diperoleh dalam sekejap.

Saya awalnya tidak begitu tertarik menanggapi perdebatan penyidik KPK dan anggota DPR Fahri Hamzah (FH) saat akan dilakukan penyidikan kasus korupsi. Kronologisnya silakan disimak melalui situs berita kesayangan masing-masing. Fahri Hamzah terkenal sebagai tokoh politik kontroversial, lebih banyak terdengar sensasi ketimbang prestasi. Cocoklah dia disebut Partai Kader Sinting (meniru komentarnya tentang hari santri). Namun ketika muncul tulisan di Kompasiana yang made-in pengamat dadakan bin abal-abal, kontan tangan ini merasa gatal ingin menulis.

Apa sebabnya? Yakni ketika sejumlah Kompasioner tiba-tiba latah ingin melarang Brimob membawa senjata api laras panjang. Mereka sepaham dengan FH, meski disertai malu-malu kucing, benci tapi suka. Entah malu-malu atau bersiasat busuk. Khusus penyidikan di Gedung DPR, mereka ingin Brimob membawa golok atau minimal sekali pentungan seperti Satpol PP. Toh ‘musuh’ yang dihadapi adalah aparat sipil yang tidak bersenjata. Membawa senjata api hanya mencerminkan aparat arogan yang petantang-petenteng, seperti debt-collector penagih hutang.

Mereka merasa cerdas menggunakan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2009 tentang penggunaan senjata api. Entah mereka sekedar latah meng-copas dari mulut FH atau memang paham maksud dari aturan tersebut. Padahal anggota DPR lain yang ahli hukum, Ruhut Sitompul, menyatakan aturan itu tidak bisa digunakan untuk melarang Brimob membawa senjata. Menurut Ruhut, aturan tersebut mengatur mengenai penggunaan senjata, bukan aparat yang membawa senjata.

Padahal sudah sangat jelas, Brimob adalah aparat yang melakukan tugasnya dengan membawa senjata api. Hal ini bukan petantang-petenteng, tapi memang sudah prosedurnya. Penggunaannya juga melalui SOP yang jelas, bukan main tembak seperti koboi. Kompasioner penganjur Brimob membawa golok barangkali lupa, bahwa mobil-mobil uang pengisi ATM juga dikawal oleh Brimob yang membawa senjata laras panjang ke berbagai tempat, tanpa menimbulkan ketakutan atau trauma kepada masyarakat.

Entah ada apa di kepala penganjur Brimob membawa golok ini. Saya khawatir, bila anjuran ini dilakukan, tidak ada bedanya Brimob dengan para penjual duren, yakni sama-sama bersenjatakan golok. Begitulah logika aneh bin ajaib dari para pengamat dadakan di era Google yang serba instant ini. Oleh sebab itu, saya mengajak kita semua, mari gunakan logika cerdas agar tidak menyesatkan masyarakat. Bila masyarakat sehat, negara niscaya akan kuat. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s