Zohib Messenger

zohib-messenger-150x100Sukses besar WhatsApp banyak orang yang tahu. Aplikasi messenger-nya dipakai jutaan orang di dunia, termasuk di Indonesia. Apakah sukses ini semata karena dia dilahirkan di Silicon Valley? Mengapa produk-produk buatan dalam negeri sulit berhasil dengan skala dunia? Pertanyaan ini seringkali menjadi pertanyaan kita semua.

Sebuah pengembang lokal, KLIK Indonesia menawarkan aplikasi sejenis, Zohib Messenger. Seperti halnya WhatsApp, tidak hanya mampu mengirim teks tapi juga dokumen, gambar, video, dan lokasi. Zohib ini merupakan bagian dari ekosistem SIAPKLIK yang bertujuan menumbuhkembangkan konten-konten lokal. Selain messenger juga tersedia ZSocial (seperti Facebook), ZTweet (seperti Tweeter), dan ZMail.

Entah kenapa, saya masih ragu dengan aplikasi-aplikasi tersebut. Niat besar KLIK Indonesia mendorong pengembang-pengembang lokal memang patut diacungi jempol. Janganlah kue besar industri informatika di dalam negeri banyak dinikmati investor luar. Saya sepakat soal itu, tapi apakah Zohib mampu menyaingi WhatsApp adalah hal lain.

Satu hal yang patut dicermati adalah skalabilitas. Argumen ini langsung saya katakan kepada salah satu penggagas Zohib. Tidak semata terkait infrastruktur, misalnya server atau bandwidth, tapi bagaimana Zohib sanggup mengelola data dalam skala raksasa dengan tingkat kehandalan yang tinggi. Persoalan yang harus dipikirkan sejak jauh-jauh hari. Persoalan yang membuat Google selalu unggul dengan kemampuannya mengolah data-data raksasa.

Mengelola data dalam skala mega tentu berbeda dengan giga, berbeda pula dengan tera. Aplikasi yang diakses ribuan pengguna akan sangat berbeda bila diakses oleh jutaan pengguna. Messenger yang baik-baik saja di saluran 3G akan menjadi lain bila di 2G. Hal ini tidak semata-mata masalah hardware, tapi kecermatan merancang algoritma dan protokol.

Membandingkannya dengan sistem perbankan di tanah air tentu tidak tepat. Memang ada jutaan nasabah dan jutaan transaksi setiap hari. Namun sistem tersebut kebanyakan bukanlah buatan lokal. Komponen impornya terlalu kental, baik itu software maupun hardware. Sama halnya dengan sistem telekomunikasi seperti telepon seluler yang banyak mengandalkan produk luar.

Contoh yang bisa dipelajari adalah kesuksesan WhatsApp. Awalnya WhatsApp merupakan aplikasi update status di smartphone. Selama tiga tahun pertama pemakainya sangat minim. Andaikan Jan Koum dan timnya berhenti di situ, aplikasi yang mendunia hanyalah mimpi. Namun mereka terus bekerja dan bekerja, terus membuat dan memperbaiki, hingga WhatsApp menjadi semakin baik. Hingga kini aplikasi tersebut telah melewati 600 juta pengguna.

Keberhasilan WhatsApp di Silicon Valley tidak terlepas dari ekosistem teknologi yang memadai. Apakah semata-mata hanya itu? Ternyata ada hal lebih mendasar lagi, yaitu berani gagal. Ekosistem yang terbentuk di Silicon Valley memberi ruang untuk melakukan kesalahan, bahkan hingga menjadi gagal. Startup yang gagal tidak kemudian dicibir apalagi dipermalukan, karena mereka percaya bahwa sukses itu dimulai dari gagal.

Mereka menyadari kegagalan adalah bagian dari membangun keberhasilan. Banyak hal kemudian dilakukan lebih cepat, seperti sesegera mungkin melepas versi beta dari sebuah produk agar cepat mendapat masukan dari pengguna. Kesalahan yang didapat segera dianalisa dan diperbaiki secara berulang, termasuk merencanakan produk berikutnya. Keberanian untuk gagal, mengambil resiko, dan mencoba hal baru pada akhirnya melahirkan banyak inovasi berharga.

Silicon Valley adalah sebuah semangat. Sukses itu dimulai dari gagal.

Mentalitas di atas sangat bisa ditiru di sini. Sejak lama Indonesia memimpikan sebuah ekosistem seperti Silicon Valley, termasuk membangun kota digital dengan fasilitas lengkap. Namun upaya ini selain membutuhkan biaya besar juga waktu yang lama. Memulai dari apa yang kita punya sekarang, ditambah semangat berani gagal dan terus berinovasi, menjadi langkah awal mewujudkan mimpi tersebut.

Memajukan industri informatika lokal memang menjadi tantangan besar bangsa ini. Bagaimana agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk-produk negara lain, melainkan ikut menjadi pemain di tingkat lokal maupun dunia. Zohib Messenger hanyalah sebuah langkah kecil seperti halnya WhatsApp dulu. Saya jadi teringat ucapan seorang narasumber, lebih baik mencoba gagal daripada gagal mencoba. Mudah-mudahan keraguan saya akan terjawab suatu hari nanti.

Maykada Harjono
oguds@wawan.web.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s