Delusional: Persaudaraan Cuma Khayalan

tolikara papuaDalam satu artikel untuk majalah saya mengangkat tema tentang delusional. Apa itu delusional? Sebuah perilaku yang tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Asalnya sederhana saja, dari kutipan sebuah meme, “Bangsa Indonesia sibuk mengejar surga, bangsa asing sibuk melahap negara.” Ya, bangsa ini terlalu sibuk mengurusi pahala dan dosa, sibuk membangun rumah di surga, sampai-sampai lalai berkompetisi dengan bangsa lain yang selalu siap untuk menggilas.

Contoh terbaru adalah kerusuhan yang terjadi di Tolikara, Papua. Konon, di sana umat muslim dilarang melakukan shalat Idul Fitri dan diikuti terbakarnya sebuah mushalla. Puasa sebulan lamanya rupanya tidak berarti apa-apa, sebagian umat Islam sontak mengutuk dan mencaci maki pembuat kerusuhan. Meskipun tidak jelas benar kronologinya seperti apa. Atas nama persaudaraan sesama muslim, pemerintah, Wapres, polisi, Mer-C, umat Kristen hingga Syiah dijadikan sasaran hujatan.

Sungguh khayalan tingkat tinggi. Amarah karena mushalla ribuan kilometer di seberang lautan sana, padahal masjid sepelemparan batu jarang dikunjungi. Membela muslim di pedalaman Papua, padahal fakir miskin di lingkungan sekitar tidak peduli. Siap berjihad demi siapa entah di mana, sedangkan tetangga 4 rumah di sebelah kenal pun tidak. Benar, 4 rumah bukan 40 rumah. Sementara bapak tua di depan masjid kompleks masih setia memegang jaring ikan yang kosong.

Saya mencoba mengingat-ingat, selama 40 tahun memeluk Islam sejak lahir, apakah pernah mendapat bantuan atas nama persaudaraan sesama muslim. Sayang sekali, saya gagal mengingatnya. Bila pun terjadi tolong menolong, itu lebih karena merasa sesama anak bangsa. Bangsa yang terkenal dengan budaya korupsinya. Tentu korupsi bukanlah bagian dari persaudaraan tadi, sebab itu adalah perbuatan tercela. Ya, cela yang tidak bisa ditutupi meskipun dengan mengkorupsi Al-Quran sekalipun.

Saya khawatir umat Islam dilatih untuk berkhayal. Membayangkan kajayaan Islam ribuan tahun lalu dan nikmatnya surga nanti. Khayalan yang berasal dari para ustad yang menjadikan ceramah sebagai sumber penghasilan. Janganlah berharap prestasi nyata dari mereka, karena mereka terbiasa menghapal Al-Quran tanpa mengamalkan. Berdoa tanpa perlu memahami isinya. Umat dibuat percaya bahwa persaudaraan antar muslim itu ada. Padahal itu hanya khayalan belaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s