Jaringan Kehidupan

cloud computing Konvergensi manusia dan mesin berkomunikasi melalui internet akan semakin intensif di masa depan. Seberapa bisa kita hidup tanpa internet?

Baru-baru ini produsen perangkat jaringan Cisco merilis hasil studi, banyaknya perangkat mobile akan melampaui jumlah manusia pada 2016. Saat itu penghuni bumi diperkirakan 7,3 milyar, sedangkan perangkat bergerak mencapai 10 milyar. Semua perangkat aktif terkoneksi ke internet. Seperlimanya merupakan hubungan mesin ke mesin, misalnya memonitor pergerakan mobil dan kapal. Lalu lintas data pun meningkat drastis.

Sekitar tahun 1984, Sun Microsystems memperkenalkan istilah "the network is the computer". Sun mempromosikan efektivitas bekerja melalui jaringan, yang bisa diibaratkan komputer itu sendiri. Sun adalah pencetus komputasi jaringan berbasis Unix, menggunakan protokol TCP/IP. Namun dalam infrastruktur jaringan yang terbatas saat itu, ide Sun tadi kurang bisa dipahami. Jangankan jaringan, PC pun masih dalam tahap-tahap awal pengembangan. Internet hanya tersedia di sebagian kecil lokasi.

Seiring waktu berjalan, apa yang dipromosikan Sun akhirnya mendekati kenyataan. Diawali meledaknya penjualan PC dan merebaknya internet, komputasi jaringan menjadi kebutuhan sehari-hari. Dari sekedar browsing hingga cloud computing. Bahkan bisa dibilang, komputer tanpa internet adalah bukan komputer. Dahulu mungkin bisa komputer hanya untuk mengetik dan bermain game. Sekarang, tanpa membuka e-mail atau Facebook sehari saja, hidup serasa belum lengkap.

Perkembangan selanjutnya, komputer tidak lagi diam seperti PC desktop, melainkan bergerak. Mulai dari berbentuk laptop, netbook, smartphone, hingga tablet. Inilah era mobile. Popularitas jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter turut mendongkrak penjualan perangkat mobile. Bergerak sembari tetap eksis. Jargon Sun bisa diubah menjadi “the network is the people”. Di jaringan terdapat orang dan kehidupan.

Maraknya penjualan gadget mobile bisa terlihat dari kinerja salah satu produsennya, Apple Inc. Saat ini Apple merupakan perusahaan terbesar di Amerika Serikat, dilihat dari kapitalisasi pasarnya di bursa saham. Besarnya melampaui 4.000 trilyun, atau empat kali APBN Indonesia. Jauh di atas rekan-rekan sejawatnya, seperti Microsoft, IBM, dan Google. Keberhasilan Apple ini tak lepas dari suksesnya penjualan produk seperti iPhone dan iPad, terutama di wilayah Amerika.

Namun bukan berarti era mobile didominasi oleh perangkat sejenis ponsel cerdas atau smartphone. Menurut riset International Data Corporation (IDC), meskipun penjualan smartphone meningkat dari tahun ke tahun, penetrasinya hanya 16% saja dari seluruh akses internet secara mobile. Penjualan ponsel ‘kurang cerdas’ di 2011 masih dua kali lebih banyak. Demam ponsel cerdas masih dalam taraf euforia media. Walaupun seiring turunnya harga dan meningkatnya kebutuhan, situasinya akan berbeda di masa depan.

Lagipula, orang lebih membeli layanan ketimbang perangkat. BlackBerry laku keras di Indonesia, berawal dari popularitas BlackBerry Messenger (BBM). Ditambah program komunikasi yang terintegrasi, seperti e-mail dan Facebook, dan biaya konektivitas yang murah. Android pun butuh killer application agar dicari banyak orang. Apakah itu Skype, Google Maps, hingga Angry Birds. Terutama aplikasi untuk jejaring sosial.

Kita perlu mewaspadai tragedi di dunia PC terulang lagi. Boleh dibilang, PC nyaris lumpuh akibat serangan berbagai malware, seperti virus, trojan, dan worm. Mulai dari berkurangnya produktivitas hingga mati total. Perangkat mobile dengan konektivitas yang ‘always on‘ dan terbuka, membuat potensi ancaman semakin tinggi. Penjahat cyber akan memanfaatkan peluang ini. Kesadaran terhadap faktor keamanan harus benar-benar dihayati dan diamalkan. Apalagi menyangkut data-data pribadi yang penting.

Di film”Eagle Eye”, superkomputer nan canggih berencana membunuh presiden. Melalui jaringan, dia mengendalikan manusia, menyetir mobil, menyetop kereta api, hingga menerbangkan pesawat. Memang lebay, namanya juga film. Semakin terkoneksinya manusia dan mesin di era mobile ini, membawa peluang sekaligus tantangan. Komunikasi semakin intensif, tetapi juga bermanfaat. Perangkat pintar yang membantu manusia, bukan malah menyusahkan dan melawan manusia. Semoga cuma ada di film.

Maykada Harjono
oguds@wawan.web.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s