SOPA dan PIPA

sopa pipa Internet dibangun dengan semangat kebebasan berinovasi dan berpendapat. Namun berbagai pihak punya beragam kepentingan di sana.

Wikipedia, WordPress, Google, Flickr, dan banyak situs terkemuka lain serentak menghitamkan halaman depannya pada 18 Januari 2012. Mereka menentang pengajuan RUU Stop Online Piracy Act (SOPA) yang dibuat oleh Kongres Amerika Serikat. Konon, aksi protes online ini sebagai yang terbesar sepanjang sejarah.

SOPA merupakan kelanjutan dari PIPA, atau PROTECT IP Act, atau Preventing Real Online Threats to Economic Creativity and Theft of Intellectual Property Act. Membacanya saja sudah menghabiskan nafas. Lewat UU ini, penegak hukum di AS dapat lebih leluasa menindak kegiatan online yang dianggap ilegal. Terutama dalam kaitan melindungi hak atas kekayaan intelektual (HAKI).

Bagi publik Indonesia, serangkaian aksi demo ini seperti deja vu saat DPR dan Pemerintah membahas RUU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), awal tahun 2008. UU ITE melarang teraksesnya informasi tertentu, seperti penghinaan, pemerasan, perjudian dan pornografi. Salah satu upaya melalui penyensoran dan pemblokiran Internet. Ramailah netter, miliser, blogger seantero nusantara memprotes rencana itu. Polemik berlangsung hingga berbulan-bulan, di semua media Internet yang tersedia.

Penyensoran seringkali ditanggapi secara negatif, apapun tujuannya. Banyak pihak khawatir, kewenangan ini akan tak terkontrol dan disalahgunakan pihak berkuasa. Kebebasan berinovasi, berkreasi, dan berpendapat menjadi terancam bahkan mati. Melindungi HAKI juga bukan masalah gampang. Terlalu kaku akan mematikan kreativitas, terlalu luwes juga mematikan kreativitas. Tergantung situasi dan kondisi.

Logika HAKI kadang sulit dipahami. Sponsor SOPA seperti Motion Picture Association of America (MPAA) dan Recording Industry Association of America (RIAA), bukanlah perusahaan kecil dan bangkrut. Mereka besar dan mengeruk milyaran dolar setiap tahun. Kalangan artis yang selalu mengeluh pembajakan, hidup serba berkecukupan. Bila pembajakan membawa penderitaan, mengapa jutaan orang tetap tertarik menjadi artis ?

Begitupun penentang SOPA, masing-masing memiliki kepentingan tersendiri. Seperti Google, yang terang-terangan mencaplok isi seluruh situs di dunia tanpa izin. Baik itu copyright atau copyleft. Bermodal koleksi data raksasa itu, Google meraup laba Rp 88 trilyun di 2011. Situs lain seperti Wikipedia, yang menyediakan tempat berbagi informasi antar pengguna secara bebas, berpotensi besar tersusupi konten-konten ilegal. Tentu ini akan mengganggu pengumpulan sumbangan yang mencapai jutaan dolar per tahun.

Pro kontra RUU SOPA di tempat lahirnya Internet, ikut mengundang dedengkotnya turun gunung. Tak kurang Steve Crocker, perancang Internet dan aktivis sejak era ARPANET, menolak filtering lewat Domain Name System (DNS). Alasannya, ketidaklayakan dari segi teknis. Posisi ini tidak mengherankan. Namun di dunia yang penuh kepentingan, ekonomi dan politik bisa mengabaikan sisi teknis. Sungguh ironis memang.

Melihat efek dari pemblokiran, AS bisa belajar kepada Indonesia. Suka atau tidak, meski disertai gemuruh publik, setiap provider Internet di Indonesia wajib melakukan penyensoran. Terutama akses terhadap situs-situs berbau pornografi. Walaupun terdapat lubang di sana-sini, membuka situs-situs porno kini terbukti lebih sulit. Statistik dari Alexa.com jelas menunjukkan, ranking situs-situs porno yang diakses dari Indonesia semakin melorot. Ini merupakan pertanda baik dan kemenangan kita bersama.

Menyikapi HAKI memang butuh kearifan bertindak. Kita tak ingin, HAKI menjadi alat pemilik modal meraup keuntungan tidak wajar dan mematikan kesempatan berusaha bagi pihak lain. Microsoft menjadi raksasa software, berawal dari mencontoh Macintosh. Linux dibuat terinspirasi dari Unix. Seorang Justin Bieber sekalipun, memulai karirnya dengan menyanyikan lagu orang lain. Bila HAKI diterapkan secara kaku, inovasi sulit terjadi.

Saat ini RUU SOPA ditangguhkan pembahasannya. Namun bukan berarti upaya serupa akan berhenti sama sekali. Kita hanya bisa berharap, apapun solusi yang nantinya dicapai, tidak merusak keterbukaan dan pertukaran informasi yang selama ini ada. Jangan sampai, AS menjadi tempat lahirnya Internet, sekaligus tempat kematiannya.

Maykada Harjono
oguds@wawan.web.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s