Dennis M. Ritchie

the c programming language Sebagai pembuat program atau pemakai intim komputer, bila tidak mengenal nama di atas bisa dilukiskan dengan satu kata: ter-la-lu.

Berbanding terbalik dengan kematian Steve Jobs yang diratapi berjuta orang, kepergian Dennis M. Ritchie tidak banyak menyita perhatian publik. Padahal bila setiap PC, laptop, smartphone hingga tablet ditelisik melalui mikroskop, akan terlihat jejak-jejak karyanya. Ia meletakkan dua pondasi penting dalam dunia komputasi modern, yaitu sistem operasi Unix dan bahasa C.

Unix membawa tiga konsep penting dalam sistem operasi, yaitu portabilitas, multi-tasking, dan multi-user. Sebelum Unix, sistem operasi dibuat dengan bahasa Assembly yang kaku, susah diprogram dan sulit dipindah. Sangat bergantung pada mesin. Lingkungan Unix dengan model client-server, juga menjadi dasar dalam pengembangan jaringan Internet. Hingga kini, Unix dan turunannya (seperti Linux) masih dipakai luas di server, terminal kerja, PC, dan perangkat mobile.

Sedangkan bahasa C, siapa yang tak kenal ? Inilah bahasa komputer paling populer sejagad, dan mendorong munculnya bahasa-bahasa lain. Sebut saja C++, C#, Java, JavaScript, PHP, Python, sampai Perl. Bahasa yang sering dikategorikan tingkat menengah, menjembatani antara aras bawah (mesin) dan aras atas (manusia). Bila dirangkum, barangkali ini kata kunci bahasa ini: sederhana, luwes, dan tersedia. Boleh dibilang, seluruh sistem operasi dan pendukungnya dibangun dengan bahasa ini.

Perkenalan saya dengan Pak Ritchie ini, tak lain dan tak bukan melalui buku beliau, "The C Programming Language, Second Edition." Saya sangat terkesan dengan penyampaian yang ringkas tapi lugas, tentang konsep-konsep pemrograman bahasa C. Bahasa yang konon untuk sebagian orang rumit ini, diurai lengkap hanya dalam 272 halaman. Bandingkan misalnya dengan buku "Programming Perl" dari Larry Wall, menghabiskan 1100 halaman. Bahkan buku terbitan 1978 ini, direvisi 1988, masih menjadi pegangan wajib pemrogram C hingga sekarang.

Suksesnya Unix dan bahasa C tak lepas dari keberuntungan sejarah. Di era 1970-an, belum ada bahasa dan sistem komputer yang luwes, murah, dan efisien. Era di mana komputer masih berbadan besar dan mahal seperti DEC PDP, dengan bahasa khusus seperti Assembly dan Fortran. Bersamaan dengan mulai tumbuhnya komunitas riset dan akademis berbasis komputer. Kehadiran Unix segera disambut hangat dan luas, dengan C sebagai bahasa pergaulan (lingua franca) antar sistem.

Bahasa C mengusung semangat pragmatisme, memahami apa yang benar-benar dibutuhkan. Kesederhanaan di satu sisi membawa kemudahan, tapi di sisi lain memiliki keterbatasan. Contoh yang paling mudah, operasi string. Bila di bahasa Pascal string adalah sebuah tipe data, sehingga memiliki perlakuan khusus, di C string tak ubahnya alamat memori. Mengelolanya dengan kerumitan yang sama seperti pointer. Membuat program menjadi cryptic, sulit untuk dibaca. Banyaknya library tambahan juga bisa menimbulkan masalah portabilitas dan standarisasi program.

Tentu saja, C tidaklah jatuh begitu saja dari langit. Bahasa adalah produk dari masyarakat penggunanya, dipengaruhi dan mempengaruhi bahasa lain. Bila ditarik ke akarnya, C merupakan modifikasi dari bahasa B (Ken Thompson), yang merupakan turunan dari BCPL (Martin Richards). Keseluruhannya adalah keluarga dari Algol 60. Demikian pula Unix, yang terinspirasi dari pendahulunya Multics.

Hal yang menarik dari Unix dan turunannya adalah filosofi kesederhanaan. Bagaimana sistem terbangun secara modular, sehingga masalah rumit terbagi menjadi solusi-solusi mudah. Memecah pengerjaan melalui program-program dengan fungsi khusus, yang kemudian tergabung (misalnya lewat pipe) untuk menghasilkan hasil lebih kompleks. Modularitas ini membuat kejelasan terjaga hingga ke tingkat detil. Bandingkan dengan sistem operasi lain, dengan istilah Blue Screen of Death, masalah tidak jelas ujung pangkalnya.

Demikianlah, jasa besar Dennis M. Ritchie memajukan komputasi dunia. Kesederhanaan dan ketekunan sebagai peneliti di AT&T Bell Laboratories, menciptakan sejarah tersendiri. Penghargaan memang tidak dari media, melainkan Turing Award, penghormatan tertinggi di bidang komputasi. Akankah kita menemui lagi sosok-sosok fenomenal di tengah hiruk pikuk teknologi informasi seperti sekarang? Entahlah. Selamat jalan Mr. Ritchie.

Maykada Harjono
oguds@wawan.web.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s