PC Masa Depan

tablet pc Tepat 12 Agustus 2011, Personal Computer (PC) berumur 30 tahun. Sejak diluncurkan IBM tahun 1981, begitu banyak yang telah berubah. Seperti apa wujudnya nanti ?

Saat itu, IBM PC berisi prosesor 16 bit Intel 8088, memori 16KB, 160KB floppy drive, dan 12 inci monitor hitam putih. Kecepatannya 4,77 MHz, seharga USD1.565, atau Rp 33 juta sekarang disesuaikan besar inflasi. Bagaikan bumi dan langit bila dibandingkan rupa dan harga PC saat ini. Namun itulah salah satu momen penting dalam era teknologi informasi. Cikal bakal merebaknya komputer pribadi ke seluruh penjuru dunia.

Mari kita bernostalgia sejenak. Saya masih ingat, PC pertama yang pernah dimiliki adalah PC AT 286 16 MHz, memori 1 MB, sekitar tahun 1991. Sistem operasi masih berupa Microsoft DOS berbasis teks. Setelah itu diikuti dengan upgrade ke prosesor 386, 486, Pentium 1, Pentium 3, hingga dual core. Sistem pun berganti berbasis grafis. Berlanjut ke perangkat bergerak seperti laptop, netbook, hingga smartphone. Semakin lama semakin cepat dan murah, dengan kapasitas berlipat ganda.

Bagaimana kira-kira nasib PC di masa depan? Mark Dean, seorang perancang awal IBM PC, sejak satu dekade lalu meyakini tablet sebagai andalan era post-PC. Namun menurutnya, pengganti PC bukanlah soal perangkat, tapi tentang ide-ide baru peran komputasi dapat dimainkan. Mengisi ruang sosial di mana manusia saling bertemu dan bertukar pikiran. Di situlah, komputasi memberi pengaruh besar pada ekonomi, masyarakat, dan kehidupan manusia.

Persaingan perangkat komputasi memang bukan sekedar bentuk. Kita bisa lihat kompetisi di sistem operasi pada perangkat mobile, misalnya smartphone. Di situ ada Android Google, iOS Apple, Symbian Nokia, Blackberry RIM, dan juga Windows Phone dari Microsoft. Tidak seperti PC yang sangat didominasi oleh Windows, di perangkat bergerak semuanya saling berebut pengaruh. Apalagi pasarnya masih terbuka lebar.

Pertengahan Agustus 2011, Google menggelontorkan USD 12,5 milyar (Rp 107 trilyun) untuk membeli Motorola Mobility. Sekitar 10% APBN Indonesia tahun 2011. Langkah besar ini selain bertujuan memacu pengembangan komputasi bergerak, juga menggenjot penggunaan Android. Memenangkan sistem operasi akan ikut memicu ketersediaan aplikasi. Kekayaan aplikasi pada akhirnya akan mendatangkan banyak pengguna baru.

Bila di komputasi bergerak Windows takluk oleh seterunya seperti Android, di prosesor berbeda cerita. Di sini x86 Intel ditelikung oleh gerilya prosesor-prosesor berbasis ARM. Perang klasik antara Complex Instruction Set Computing (CISC) dari x86 dan Reduced Instruction Set Computing (RISC) dari ARM. Upaya Intel mengusung seri Atomnya hanya berhasil hingga netbook, tapi jeblok di smartphone dan tablet. Kunci sukses dari ARM, daya rendah dan harga murah, rupanya belum berhasil ditangkal oleh Intel.

Sejumlah pihak berpendapat, peran PC desktop tidak akan tergantikan. Laptop, netbook, tablet dan smartphone memiliki proporsi tugasnya masing-masing. Misalnya tablet, dianggap tidak efektif untuk pekerjaan berat. Tentu tidak sepenuhnya salah, tapi ini kembali pada definisi kerja itu sendiri. Seorang direktur dan editor pasti berbeda cara kerjanya. Berseluncur di web yang minim mengetik, virtual keyboard akan terasa nyaman. Seorang gamer beda pula aktivitasnya. Demikian pun kegiatan yang lain.

PC semakin menjadi komputer pribadi dalam arti sebenarnya. Saat ini, PC berwujud smartphone dan tablet mewabah, tak lain karena kegiatan komputasi dan komunikasi yang kian intensif. Jejaring sosial menciptakan kebutuhan manusia untuk berinteraksi di segala tempat dan waktu. PC di atas meja, bertransformasi menjadi gadget di genggaman tangan. Seperti Mark Dean bilang, mengisi ruang sosial memenuhi kebutuhan manusia.

Bagaimana peta per-PC-an di masa depan? IBM sendiri telah hengkang dari bisnis PC sejak 2005. Terlalu dini bila Microsoft dan Intel suatu ketika bernasib sama. Bukan tak mungkin, dua sekutu tradisional ini malah bersinergi kembali merebut pasar PC generasi mendatang. Mungkinkah? Tergantung senjata pamungkas apa yang berhasil mereka buat. Penulis Amerika Mark Twain pernah berkata, sejarah tak akan berulang, melainkan berpantun. Baiklah, cuci tangan sampai bersih, cukup sekian terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s