Mestakung

mestakung "Perkembangan internet yang sempat mandek puluhan tahun sampai akhirnya paripurna ketika ditemukannya world wide web." Apakah begitu?

Seorang wartawan senior menulis kalimat di atas pada sebuah surat kabar nasional. Tampaknya terbangun pandangan umum, bahwa Internet identik dengan kejayaan web. Internet tidak akan besar seperti sekarang tanpa adanya web. Bila dibalik, apa yang dilakukan para penggiat Internet sekian lama itu?

Secara formal, HTTP sebagai protokol dasar web diterbitkan tahun 1996. Sebelumnya ada SMTP sebagai protokol e-mail, lahir di tahun 1982. Lalu FTP sebagai protokol transfer file, terbit di tahun 1985. TCP/IP sendiri baru ditetapkan di tahun 1981. Ini yang tercatat di daftar Request for Comments (RFC). Ada jeda waktu 15 tahun dari 1981 hingga 1996, sebagian orang menilainya tanpa perkembangan berarti.

Perkara mandeknya teknologi, lebih tepat bila kita melihat dengan satu kata kunci: momentum. Internet tidak akan berkembang bila pemakainya sedikit. Kapan pemakai ini meledak? Setelah perangkat pendukungnya siap. Ini dimulai ketika IBM PC diperkenalkan (tahun 1981). Lalu browser untuk web, tentu menunggu sistem operasi berbasis grafis, yang baru populer sejak Windows 3.1 (1992). Inipun berkejaran dengan kesiapan perangkat keras, seperti prosesor, memory, dan hard disk.

Momentum sangat penting dimulai antara tahun 1995 dan 1996, ketika Windows 95 hadir, TCP/IP, HTTP dan browser sudah tersedia. PC pun sudah jadi barang komoditas. Kegiatan berselancar di web pelan-pelan menjadi kebiasaan baru. Hingga kemudian berkembang bahasa web dinamis, ditandai hadirnya ASP (1996) dan PHP (1998). Demikian terus bergulir, dari situs Yahoo dan Google, muncullah Wikipedia (2001), WordPress (2003), Youtube (2004), Facebook (2004), hingga Twitter (2006).

Jadi, kita bisa melihat kesalingterkaitan antar berbagai komponen. Suatu hal akan berkembang, bila kondisi di sekitarnya mendukung. Ketika Internet diluncurkan, pembuatnya tidak pernah mengira empat milyar alamat akan kurang. Saat itu komputer jumlahnya terbatas, PC masih dalam tahap-tahap awal pembuatan. Di Indonesia sendiri, jangankan PC, pesawat TV pun belum melimpah. Tontonan anak-anak adalah Si Unyil.

Profesor Yohanes Surya, pelatih Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI), memperkenalkan istilah mestakung atau semesta mendukung. Dalam kondisi kritis, secara ajaib alam sekitar akan mendukung terciptanya jalan keluar. Hal ini dipraktekkan pada siswa TOFI, mereka dihadapkan pada situasi point of no return, belajar keras dan meraih medali emas atau pulang sia-sia. Hasilnya ternyata ampuh, puluhan medali sukses diraih.

Fenomena mestakung bisa terlihat pula di balik suksesnya web. Para ahli dari DARPA, CERN, IETF, IBM, Intel hingga Microsoft, bahu-membahu menghasilkan berbagai karya. Ada yang pakar di bidang piranti keras, piranti lunak, maupun jaringan. Kondisi kritis mendorong mereka berkreasi, terus melangkah, dan tekun bekerja. Inovasi demi inovasi, produk demi produk, hingga secara alamiah terbentuk dukungan semesta. Hasilnya seperti tampak sekarang, hadirlah era teknologi informasi.

Mestakung hanya satu dari sekian teori keselarasan manusia dan semesta. Contoh lain yang terkenal adalah hukum ketertarikan atau The Law of Attraction. Menurut hukum itu, apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terjadi. Manusia menarik alam, maka alam pun akan mendukung manusia. Dulu manusia bermimpi, ingin menjelajah dunia tanpa sekat jarak dan waktu. Kolaborasi alam semesta mewujudkan web sebagai jawabannya.

Namun mestakung bukanlah suatu keniscayaan. Internet saat ini dalam kondisi kritis, nyaris kehabisan alamat. IETF telah jauh-jauh hari melangkah, membuat protokol baru IPv6, dan tekun menyuarakan perubahan. Apa daya semesta belum juga mendukung. Tambal sulam IPv4 masih menjadi solusi. Mungkin ini masalah lain dari mestakung, tidak tahu bila dan kapan akan terjadi. Semoga bukan berarti, Internet perlu mandek dulu agar berubah wujud.

Sebagai umat beragama, tentulah kita percaya apapun yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Entah itu akibat kondisi kritis atau hukum daya tarik. Mestakung membantu kita lebih meyakini, bahwa kegigihan dan ketekunan berusaha, pada akhirnya akan berbuah manfaat yang nyata. Selamat bekerja dan berdoa, semoga mestakung.

1 Komentar »

  1. maskuntop said

    Setuju mas. Kalau orang luar bisa nyebut Law Of Attraction. Di sini kita menyebutnya MESTAKUNG. Salam WUSSSSS

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s