Generasi Penjiplak

copas Meniru boleh, menjiplak jangan. Generasi terlahir digital, hidup dalam budaya tiru-meniru dan jiplak-menjiplak yang kental. Bagaimana melihat fenomena ini?

Tiga anak muda Indonesia memberikan kuliah umum di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Usia mereka begitu belia, baru menginjak bangku SMP. Ada pembuat jejaring sosial mirip Facebook, pembuat antivirus, dan permainan edukasi di ponsel. Berbicara di hadapan pakar-pakar TI, mahasiswa, dan pelajar-pelajar sekolah menengah, tentu cukup membanggakan.

Sayangnya seperti judul sebuah film, reality bites. Eforia yang ada ternyata semu belaka. Sebagian generasi muda ini bahkan terjerat tindakan tidak patut, yaitu plagiarisme. Mengapa begitu? Ternyata klaim dua belia ini palsu belaka. Situs jejaring sosial yang dibangun, ternyata menggunakan engine ciptaan orang lain. Begitupun dengan anti virus, ternyata itu adalah buatan programmer lain.

Plagiarisme atau penjiplakan, adalah mengambil ide atau karya pihak lain, dan mengakuinya sebagai buatan sendiri. Penjiplakan tergolong pencurian intelektual. Di lingkungan akademis, tindakan ini jelas terlarang. Di lingkup lebih luas, misalnya pengembangan perangkat lunak, tentu perbuatan yang tercela. Tiru-meniru memang jamak dilakukan, tapi bukan mengklaim hasil karya orang lain.

Penjiplakan memiliki pro dan kontra tersendiri. Banyak yang menentang, tapi tidak sedikit yang mendukung. Di tengahnya kaum oportunis dengan aksi ambil untung. Rujukan yang sering disorot adalah China, negara yang getol membuat produk tiruan. Ekonomi dan teknologi China maju pesat, melalui kemampuannya meniru dan mengembangkan produk-produk bangsa lain.

Muncul pula polemik, sejauh mana suatu software dapat diklaim sebagai buatan sendiri? Dalam pembuatan perangkat lunak, begitu banyak bagian yang terlibat. Mulai dari engine, komponen, library, unit, modul, dan seterusnya. Berasal dari vendor atau pihak ketiga. Kontribusi programmer boleh jadi minimal. Ibarat juru masak, asalkan resepnya orisinal, tidak masalah mengklaim itu sebagai karya sendiri. Tentu pula, mengakui dan mematuhi klausul dari pencipta lain.

Di era sekarang ini, adalah lumrah saling berbagi sumber daya oleh banyak pihak. Aliran kode sumber terbuka atau open source menjadi sangat populer. Namun tentu saja rawan tindakan plagiarisme. Suatu produk biasanya disertai lisensi, berisi syarat-syarat tertentu. Misalnya GPL, LGPL, AGPL, Artistic, dan OpenBSD. Sayangnya, membaca ketentuan di situ tidaklah mudah. Pemakainya bingung, pembuat program pun belum tentu paham.

Pedoman hukum tentang hak cipta ada di UU No 19 Tahun 2002. Definisi hak cipta, pencipta dan ciptaan ada di situ. Prakteknya, di tengah lautan informasi kita mudah lalai dan abai terhadap hak cipta. Siapapun berpotensi menjadi pelaku sekaligus korban pelanggaran hak cipta. Misalnya melakukan copy + paste, apapun itu, tanpa menyertakan kreditasi. Padahal, kreditasi adalah bentuk pengakuan terhadap hasil karya.

Generasi yang lahir sejak era 90-an, sering digolongkan sebagai digital native. Era di mana teknologi digital mulai berkembang. Mereka dianggap lebih memahami konsep-konsep teknologi informasi, karena terpapar langsung sejak usia dini. Generasi ini sejak balita sudah bersinggungan dengan komputer dan Internet. Berbeda dengan generasi sebelumnya, disebut digital immigrant, yang membutuhkan adaptasi lebih lanjut.

Nah, kita perlu khawatir bila generasi terlahir digital ini juga lalai dalam menyikapi hak cipta. Seperti halnya kasus dua belia di atas. Tanpa penyadaran sejak dini, didasari aktivitas mereka yang tinggi di dunia digital, penjiplakan akan kian marak dan masif. Kita tentu tak ingin, generasi mendatang dipenuhi oleh mereka-mereka yang enggan bekerja keras dan miskin kreativitas. Menjiplak itu murah awalnya, tapi mahal akhirnya.

Di sisi lain, kegemaran media dan sejumlah kalangan membuat eforia semu patut dikritisi. Banyak contoh karya-karya asli anak bangsa sebagai inspirator generasi muda berkreasi. Pembuatnya memang tidak lagi di usia belasan. Ketidakjelian pakar-pakar terkait, malah menimbulkan polemik dan cercaan publik. Seperti plesetan slogan sebuah media, terdepan dalam melebaykan. Selamat datang di lebaynews.com.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s