Kabel Copot

superkomputer Sejumlah negara Asia telah menggunakan super komputer untuk memenuhi kebutuhan mesin komputasi berskala besar. Sudah saatnya Indonesia ambil bagian.

Bulan November 2010 super komputer buatan China, Tianhe-1A, berhasil menduduki urutan teratas komputer tercepat di dunia versi Top500.org. Kecepatannya setara 2,67 petaflops (1 petaflops = seribu trilyun operasi floating point per detik) atau 150% lebih tinggi dari posisi tercepat sebelumnya. Prestasi baru China ini meruntuhkan supremasi Amerika Serikat sebagai jawara komputasi dunia selama enam tahun terakhir.

Tianhe-1A ditenagai 14 ribu prosesor Xeon X5670 (6 core) dan 7 ribu prosesor grafis (GPU) Tesla M2050 dari nVidia. Keseluruhan core berjumlah 186 ribu. Kapasitas hard disk mencapai 2 Petabyte dan memory 262 Terabyte. Komputer tersusun dari 3584 blade (komputer miniatur), yang saling terhubung lewat saluran Arch berkecepatan 160 Gbps.

Menentukan yang tercepat memang sifatnya bias, bergantung pada banyak parameter. Sama halnya mengukur kecepatan program dalam berbagai bahasa. Di sini Top500 menggunakan program Linpack dalam bahasa Fortran sebagai pembanding kinerja. Batasan dalam pengujian hanya satu, yaitu program Linpack tidak boleh dimodifikasi. Optimasi bebas dilakukan terhadap perangkat keras maupun kompiler Fortran.

Meningkatkan kinerja komputer tidaklah indentik dengan merangkai sebanyak-banyaknya prosesor. Pemrosesan paralel mempunyai titik lemah yang mendasar, yaitu komunikasi. Memetakan data input dan menyatukan data output, kompleksitasnya kian tinggi seiring bertambahnya prosesor. Ada titik jenuh di mana semakin banyak prosesor hasilnya malah semakin lambat, bila beban komunikasi dan sinkronisasi semakin besar.

Merupakan hal yang menarik bahwa hukum Moore ternyata bermain di sini. Pendiri Intel Gordon Moore pernah menyatakan di tahun 1965, kompleksitas mikroprosesor akan meningkat 2x lipat setiap 18 bulan. Meskipun konteksnya berbeda, tapi nyatanya kinerja dari ranking teratas berlipat ganda setiap 14 bulan. Sejak Top500 memulai benchmark di tahun 1993, hingga 2010 ini kecepatannya telah bertambah 36 ribu kali.

Namun sukses China diramal tidak berlangsung lama. Apalagi diketahui salah satu trik mendongkrak kinerja adalah penggunaan banyak GPU. Departemen Energi Amerika, bekerja sama dengan raksasa komputer IBM, berencana meluncurkan super komputer bertenaga 20 petaflops di 2012. Tentu bukan sekedar mengakali program Fortran Linpack tadi, tapi didasari kebutuhan komputasi era mendatang yang kian meningkat.

Selain China, enam negara Asia lain berhasil meramaikan 500 komputer tercepat. Yaitu Jepang, India, Arab Saudi, Korea Selatan, Singapura, dan Hongkong. Nah, bagaimana dengan Indonesia? Tampaknya baik institusi pemerintah maupun swasta belum sanggup mengikuti kontes adu cepat ini. Padahal, negara dengan penduduk 237 juta ini mempunyai banyak masalah yang kompleks. Lembaga-lembaga pendidikan dan penelitian sudah selayaknya memiliki mesin komputasi tingkat tinggi.

Apalagi era komputasi di awan (cloud computing) akan menjadi tren di masa depan. Komputasi di mana infrastruktur pengolahan data dilakukan secara terpusat. Kerumitan tidak lagi di tingkat pengguna, tetapi berpindah ke penyedia layanan. Kemampuan untuk membangun dan mengelola infrastruktur berskala besar perlu dikuasai anak-anak negeri. Tidak sekedar mengimpor program atau komputer jadi dari vendor-vendor tertentu.

Lima tahun lalu super komputer peringkat terbawah memiliki 400 core. Barangkali perancang komputer di sini masih sanggup merangkai prosesor sejumlah itu. Namun sekarang, peringkat terbawah memiliki 5 ribu core. Mulailah pusing kepala menyusun kabel-kabel yang malang melintang di sana-sini. Perlu lompatan besar mengejar ketertinggalan. Tahun depan boleh jadi jumlahnya akan bertambah menjadi 10 ribu.

Kasus kacau balaunya migrasi sistem di sebuah maskapai penerbangan bisa menjadi cermin. Ribuan penumpang telantar. Penyebabnya? Kapasitas server yang tidak memadai. Barangkali sudah saatnya digunakan super komputer, sekaligus meramaikan daftar Top500. Tentu perlu pula diikuti dengan pengelolaan sistem secara benar. Jangan sampai sistem crash karena alasan kabel copot. Apa perlu diberi lem super?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s