Mencoba AXIS

modem gsm Internet murah sedang menjadi tren. Baik operator GSM dan CDMA sama-sama banting harga. Kisarannya antara Rp 25 ribu/bulan untuk GSM dan Rp 45 ribu/bulan untuk CDMA. Kali ini dicoba salah satu operator GSM, yaitu Axis.

Kartu perdana AXIS tergolong murah, Rp 3000 untuk pulsa 3000. Di KRL sering pula dijual dengan harga Rp 1000, biasanya dengan pulsa yang lebih sedikit (mungkin edisi murah khusus KRL). Harga untuk layanan Internet bermacam-macam, dari harian, mingguan, hingga bulanan. Boleh dibilang harganya sangat murah, dan sudah termasuk PPN pula.

Berhubung percobaan ini untuk melihat kinerjanya dalam menyedot data, dipilihkan paket tanpa batas untuk harian, dengan harga Rp 15 ribu. Maksimal bandwidth adalah 384 Kbps. Kebetulan modem GSM yang digunakan mempunyai kecepatan maksimal yang sama. Bila digunakan di handphone, sinyal yang didapat termasuk layanan Edge (2.5G), dengan kisaran maksimal bandwidth sekitar 400 Kbps.

Faktor Antena

Percobaan kali ini juga dalam rangka berburu sinyal, yaitu mencari operator GSM dengan kualitas sinyal memadai. Antena yang digunakan cukup mendukung, yaitu antena Yagi (mirip-mirip antena TV), hanya terpasang secara vertikal. Dari antena ke modem memakai kabel coaxial 75 ohm (seperti kabel antena TV, dengan alasan ekonomis), dan menggunakan sistem induksi untuk sampai ke modem. Induksi dilakukan dengan lilitan kawat / kotak kumparan terhadap antena modem (yang penguatannya hanya sekitar 3 db).

Konon antena Yagi tersebut diklaim pembuatnya memiliki penguatan (gain) hingga 35 db. Memang cukup terbukti, meskipun hanya dengan induksi tapi mampu mendongkrak sinyal hingga 2x lebih besar. Lebih ideal lagi bila langsung disambung dengan pigtail ke modem, sayangnya harga pigtail sendiri relatif mahal. Lagipula, impedansi keduanya tidak cocok, sehingga bisa menimbulkan rasio SWR tinggi yang berakibat pancaran tidak efisien dan berbalik menjadi panas ke modemnya.

Antena Yagi memiliki arah tertentu (directed), persis seperti antena TV, sehingga pengaturan posisi menjadi cukup penting. Meskipun sulit juga menentukan arah yang benar, karena kecepatan modem bisa naik turun tergantung dari banyak faktor. Misalnya beban jaringan yang tinggi, atau backbone dari ISP yang sudah jenuh. Melihat dari besarnya sinyal pun kurang mendukung, karena semuanya terlihat dalam kondisi excelent. Ini salah satu indikator semu dalam komunikasi dua arah, penerimaan mungkin kuat karena daya dari BTS besar, tapi pengiriman cenderung lemah karena daya terbatas dari modem. Alhasil, sambil mengunduh data, arah antena diputar-putar yang sekiranya paling optimal. Tanda dari arah yang tidak tepat adalah hasil download yang terputus-putus, kadang cepat sekali, kadang lambat sekali, atau malah mangkrak.

Pegel Linux

Lingkungan uji coba menggunakan sistem operasi Linux, karena lebih luwes untuk memantau jaringan. Tentu saja akses ke situ via telnet, karena ogah betul menggunakan GUI di Linux (hehe). Linux yang digunakan adalah Fedora Core 8, dengan modem GSM berjenis PCMCIA yang diakses via PCI card. Kebetulan drivernya sudah built-in. Setting ifcfg, wvdial, dan pppd cukup sederhana. Beberapa program downloader dicoba, seperti wget, axel, aria2, dan prozilla.

Sekedar catatan, utility lain yang berguna untuk server berbasis koneksi ppp adalah dnsmasq dan vnstat. Program dnsmasq bisa digunakan sebagai dns server / forwarder, dhcp server, dan tftp server. Ini sangat berguna untuk jaringan kecil atau menengah, tanpa memasang banyak program atau setting. Sedangkan vnstat berguna untuk mencatat besarnya data yang digunakan untuk koneksi ppp, misalnya mencegah agar kuota tidak terlampaui.

Telaah Hasil Percobaan

Salah satu situs yang terkenal sangat cepat adalah kernel.org yang menyimpan source dari kernel Linux. Dicoba untuk mengunduh file yang cukup besar, yaitu linux-2.6.35.3.tar.bz2 yang berukuran 69 MByte. Dengan wget (pilihan debug) bisa terlihat bahwa AXIS menggunakan squid sebagai server proxy. Hal ini cukup bisa dikritisi, apakah merupakan langkah yang tepat, mengingat skalabilitas squid cukup terbatas. Bagi keperluan ISP yang sangat besar, server proxy yang tidak dibuat dengan skalabilitas memadai, hasilnya malah kontraproduktif. Bila obyek yang dicache terlalu banyak, akibatnya persentase cache-miss sedemikian besar, menjadikan proxy penyebab kelambatan.

Koneksi via proxy adalah state-full + buffered, dan memakan sumber daya memory maupun disk yang sangat besar. Proxy berlaku sebagai man-in the-middle. Apalagi, saat ini kondisinya lebih banyak data streaming, misalnya video, yang tidak tercache. Termasuk pula file-file berukuran sangat besar. Selain itu salah satu kendala squid sebagai produk open source, adalah minimnya kontributor yang berdedikasi, sehingga hasilnya adalah produk yang dikerjakan manakala suka atau lowong.

Hasil yang perlu dikritisi adalah buruknya manajemen bandwidth di sini. Entah ini suatu kesengajaan atau kesalahan, satu koneksi bisa memakan bandwidth yang sangat besar, tapi koneksi lain menjadi macet atau gagal. Misalnya dari mengunduh file di atas, bisa tercapai rata-rata 42 KByte/s, tetapi program lain tidak bisa mengakses situs berbeda. Bagi program seperti browser yang multi threaded / multi connection / multi tab, hasilnya akan tersendat-sendat.

File lain yang diunduh adalah Fedora LiveCD dengan ukuran 700 MByte dari situsnya. Kali ini digunakan axel dengan multiple connection. Kecepatan pun cukup relatif. Misalnya entah karena apa stabil di kisaran 7 KByte/s hingga beberapa waktu, dan naik secara bertahap menjadi full 42 KByte/s dalam waktu lama. Boleh jadi ini akibat kondisi jaringan yang sedang penuh, sehingga koneksi data di-downgrade menjadi kecil, sampai saluran kosong kembali. Sebab lain, akibat buffer di proxy, yang mirip ember diisi hingga taraf tertentu, sebelum disembur secara cepat ke client. Sebab lain lagi, memang manajemen bandwidth di proxy seperti itu.

Hal lain adalah terlihatnya backbone (tulang punggung) jaringan AXIS ke jaringan internasional maupun dalam negeri cukup terbatas. Akibatnya, ada situs-situs tertentu yang terbuka cukup cepat, tapi ada situs lain yang terbuka dengan luar biasa lambat. Sehingga percuma lah koneksi ke server proxy terbilang cepat, tapi kucuran data ke ember berpipa kecil. Pengguna tentu berharap koneksi yang stabil ke segala penjuru, bukan hanya cepat ke situs-situs tertentu.

Akhir kata, tampaknya Axis harus membenahi lebih lanjut pengaturan bandwidthnya dengan lebih baik, termasuk menambah kucuran data yang lebih besar ke berbagai jaringan. Harga Internet yang murah, bukan berarti kualitasnya murahan toh? Sementara ini, operator lain tampaknya lebih menjanjikan. Tentu hasil ini belum tentu sama bila dilakukan oleh pihak lain. Bila ada telaah teknis yang salah, CMIIW.

2 Komentar »

  1. john8baldwin said

    Mau nonton siaran TV lebih dari 3.500 chanel tanpa harus berlangganan TV cable dan bayar biaya pemasangan?Cukup sekali download softwarenya di SINI
    Dan nikmati siaran dari seluruh penjuru dunia GRATIS !!!! Setiap hari!!!

  2. joko said

    Setuju pak Brekele….

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s