Petani 13 Trilyun

petani_trilyun Apa jadinya bila rekening bank kita tiba-tiba saldonya berkurang 75 juta? Sebaliknya, bagaimana bila bertambah 13 trilyun?

Seorang petani di Parepare bingung, rekeningnya mendadak bertambah. Bukan lagi sekedar jutaan, tapi trilyunan. Bila DPR sampai perlu membentuk Pansus untuk mengusut aliran dana 6,7 trilyun, petani tersebut memperoleh hampir dua kalinya, yaitu 13 trilyun. Bila disusun dalam pecahan 100 ribuan, ukurannya setara 36 ribu rim HVS Folio. Perlu ribuan truk untuk membawanya pulang.

Kasus ini memang berita selintas saja, tapi menarik dicermati. Kesalahan manusia tentu wajar terjadi. Seperti pengakuan pihak bank, terjadi kesalahan input. Mungkin saja petugasnya teledor hingga mengetik angka nol tujuh kali lebih banyak. Barangkali pula keyboard-nya lengket, ditekan tidak kembali, sehingga nolnya seperti kereta api. Meskipun terdengar konyol, tapi bukan hal mustahil. Asal jangan sampai akibat kesalahan sistem. Ini gawat, karena dampaknya sistemik.

Ingat sistemik, tentu ingat keriuhan lain di Senayan. Asal muasalnya, Menteri Keuangan tertipu. Dana bailout Century membengkak, nolnya bertambah satu, menjadi 6,7 trilyun. Meski hanya 1/2 dari rekening petani tadi, tapi cukup membuat DPR geram hingga membentuk Pansus. Di sini lawannya politisi, pengucur dana perlu berkelit seribu jurus. Alasan petugas teledor atau keyboard lengket pasti menjadi bahan tertawaan. Siapa korbannya belum diketahui, yang pasti bukan kerbau hitam.

Tak lama berganti tahun, muncul kehebohan baru. Dana nasabah bank di sejumlah tempat tiba-tiba raib. Kali ini yang lengket adalah kartu ATM, tergesek skimmer, digandakan oleh sindikat pembobol ATM. Publik layak khawatir, mengingat ATM adalah fasilitas bank yang sering digunakan. Untungnya antisipasi cepat dari pihak perbankan dan kepolisian dapat meredam kepanikan publik.

Kartu ATM berbasis magnetik tergolong teknologi jaman dulu alias jadul. Sudah saatnya diganti menjadi berbasis chip atau smartcard. Keengganan migrasi dengan alasan biaya tinggi rasanya terlalu mengada-ada. Teknologi smartcard telah lama bersama kita, tertanam di berbagai perangkat seperti telepon seluler. Pihak perbankan bisa belajar ke operator GSM atau CDMA, bagaimana membuat kartu chip berharga murah. Kartu perdana Rp 7.000, berisi pulsa 5.000. Mendekati expired, harganya bisa lebih turun lagi. Sering pula kartu dibuang setelah pulsa habis.

Berkembangnya kejahatan dan problematika di bidang perbankan menuntut peran besar ahli forensik digital. Industri perbankan sangat lekat dengan penggunaan teknologi informasi. Mal praktek yang terjadi pada akhirnya berhadapan dengan hukum, perlu analisa dan pembuktian akurat dari jejak-jejak digital yang ada. Perangkat hukum mutakhir sudah dimiliki dengan terbitnya UU ITE, meskipun perlu penjabaran lebih lanjut dalam bentuk peraturan di tingkat bawah.

Korban penggelapan transaksi perbankan sudah banyak berjatuhan sejak lama, tetapi cukup mengejutkan bila akumulasinya mencapai ratusan orang dalam waktu singkat. Dalam kasus pembobolan ATM, pihak bank cukup kooperatif dengan menanggung kerugian di pihak nasabah. Kepercayaan nasabah memang harus benar-benar dijaga. Praktek bank yang buruk akan mudah menyebar menjadi kampanye negatif. Di era maraknya komunikasi sosial via Internet, kepakan sayap kupu-kupu cepat menjelma menjadi badai topan.

Kasus salah debit 13 trilyun yang menimpa petani di atas terjadi pada November 2008. Bulan yang sama ketika Bank Century kalah kliring, disusul rapat KSSK dan keputusan bailout yang menghebohkan. Bersamaan pula dengan merebaknya kepanikan global di sektor finansial, bursa saham ambruk di mana-mana. Adakah benang merah di sini? Penggemar teori konspirasi pasti setuju, tidak ada peristiwa yang kebetulan. Semuanya serba terencana dan saling terkait. Konspirasi yang baik adalah konspirasi yang tak pernah bisa dibuktikan.

Kesalahan bank ternyata berlanjut. "Saya takut minus Rp 9 triliun itu dibeban ke saya," kata petani itu. Rupanya kali ini tabungannya didebet Rp 22 triliun. Kesannya main-main, serasa uang sekedar angka tanpa makna. Pada akhirnya kasus ini memang telah selesai. Tampaknya pihak bank perlu memberi penjelasan secara transparan, disertai hasil forensik digital. Publik layak tahu, agar kepercayaan tetap terjaga. Jangan tunggu kepakan kecil berubah menjadi badai sistemik.

* Dimuat di PC Media Edisi 04/2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s