Demo Kaos Merah

kaos merah Memasuki bulan Mei, apakah optimisme Bursa Efek Indonesia masih berlanjut? Sentimen mulai bergerak negatif. Krisis Yunani dan mata uang Euro merembet ke berbagai penjuru dunia. Tampaknya perlu dilakukan pembersihan total.

Bila per hari ini IHSG ditarik ke atas, barangkali sekedar menjejak 3000, lalu meluncur ke bawah. Saham-saham lapis kedua mulai bertumbangan. GJTL pun ganti nama, jadi Gajah Tinggal. Padahal kinerja dan PER-nya masih sangat oke. CPIN si produsen ayam pun tak ketinggalan, mulai ambrol. Meskipun kinerja, PER, dan pembagian deviden sangat menjanjikan.

Sell in May, Go Away?

Bila dianalisis, selama 10 tahun terakhir IHSG di bulan Mei: naik 6x, turun 4x. Namun malah terlihat ada pola di situ, kecuali tahun 2008 yang puncak krisis, yaitu tahun genap turun, tahun ganjil naik. Jadi siklus normalnya di tahun 2010 ini adalah turun.

Barangkali pesan moral dari istilah di atas, yaitu potensi keuntungan di Mei yang tipis, atau volatilitas meningkat. Mungkin saja IHSG akhirnya ditutup naik 0,00001%, lalu meluncur lagi ke bawah. Pengalaman sih, analisis momentum sering gagalnya, alias resiko meningkat. Meninggalkan bursa toh bagian dari strategi juga. Biarlah saham-saham rest in peace.

Krisis Yunani: "Hoppers and Ants"

Analoginya menarik, sayang kesimpulannya tidak pas. Meskipun Yunani punya mata uang sendiri, tapi uang tidak bisa dicetak seenak udelnya, atau devaluasi. Ingat Zimbabwe yang inflasinya menyundul langit? Tetap saja bantuan dari negara-negara sekitar atau regional dibutuhkan.

Solusi mudahnya bisa saja Yunani di-kick dari Eurozone, tapi problem di suatu negara akan cepat menjalar ke negara lain. Jadi Euro-nya sendiri tidak masalah, hanya saat ini sedang jadi incaran spekulan-spekulan valas dan para bandar pasar modal, seperti biasanya.

Kasus Yunani = Depresi Besar ?

Krisis separah apapun tidak akan mengulangi resesi 1929. Mengapa? Karena kekayaan dunia sekarang tidak sebanding dengan saat itu. Contoh terdekat, krismon di Indonesia tahun 1997. Itu sebenarnya cukup parah, tapi kehidupan rakyat relatif normal. Adakah pembaca di sini yang sengsara 1/2 mati akibat krismon 1997 atau 2008?

Barangkali jawaban bursa-bursa yang nyem-plunge belakangan ini, ya sampai kapan spekulan-spekulan valas dan saham berhenti mengobrak-abrik? Pasar sudah tidak rasional. Kalau saham-saham pada dijual, lalu duitnya itu lari ke mana? Misalnya bursa Jerman, di-cash-in ke Euro, padahal Euro lagi jatuh. Ya malah rugi bukan?

Investor asing di BEI juga sama, saham sedang turun ditukar rupiah, pas mau ditukar ke dollar makin amblas lagi, rugi 2x bukan? Boleh jadi saat ini sedang menginap di sekuritas, menunggu momentum baik untuk kembali.

Sri Mulyani Mundur

Di era informasi ini tidak perlu memusuhi media. Bagi media yang penting adalah akurasi dan berimbang (cover both side), sehingga orang-orang seperti Wimar bisa bicara kritis. Media alternatif toh banyak, seperti website, milis, blog, dan sebagainya, bisa pula beropini di situ.

Ketika pemilu kemarin, saya banyak menyimak di blog ini, contoh yang aktual misalnya tentang World Bank: http://nusantaranews.wordpress.com/2009/06/26/sejarah-bumn-imf-word-bank-dan-privatisasi-di-indonesia-1/

Bagi saya, SMI hanya agen-agen kapitalis, sehingga ketika BD menariknya ya tidak ada yang istimewa. Seringkali kita butuh pencerahan, makanya saya suka gaya pengamat ekonomi seperti Ichsanuddin Noorsy. Meskipun terlihat nyeleneh, tapi apa yang disampaikan cukup masuk akal.

IHSG 5000

Satu-satunya cara untuk menaikkan IHSG atau saham-saham, adalah dengan mengundang uang datang. Kapitalisasi bisa naik lewat deviden, investor, modal masuk, emiten baru, dan seterusnya. Cara yang cukup aman sebenarnya menambah emiten sebanyak-banyaknya. Sekarang baru 250-an saham, coba ditambah secara agresif menjadi 1000-an, perusahaan-perusahaan besar, pasti indeks segera terbang ke 5000.

Bila investor makin banyak, modal makin besar, tapi komposisi saham begitu-begitu saja, ini mengerikan. PER makin tinggi, makin rawan fluktuasi. Investor hanya dijanjikan deviden semu, tak masuk akal. Menunggu profit masuk butuh waktu lama, apalagi dari perusahaan-perusahaan yang pelit.

Hal ini bisa dimulai dari Kementerian Keuangan, misalnya membuat insentif pajak. Bila pelepasan saham 30% dapat potongan pajak 10%, tentu berbondong-bondong perusahaan IPO di BEI. Sekarang baru berlaku potongan 5% untuk IPO 40%. Pemberian deviden juga perlu diatur, minimal 30% dari laba. Investor tertarik BUMN karena devidennya jelas, sehingga investor nyaman, dan emiten pun bekerja dengan tenang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s