Social Games

social games Permainan sejatinya berfungsi sosial. Maraknya jaringan sosial via Internet bisa menjadi lahan berkembang yang potensial. Pemain riang, pembuat pun senang.

Pekerjaan memeras hakim korup selesai, selanjutnya menyerbu istana presiden. Energi masih cukup, sedikit lagi pengalaman untuk naik level. Bertarung secukupnya, menghabiskan stamina sambil mengumpulkan barang rampasan. Merekrut anggota, mendeklarasikan perang, memanen uang dari bisnis, dan membeli peralatan. Pindah dari satu kota ke kota lain. Tak lupa berbagi tugas dan hadiah dengan sesama anggota. Semua selesai, tunggu hingga kesehatan, energi dan stamina terisi kembali.

Begitulah kira-kira ritual permainan Mafia Wars di Facebook, yang pada bulan Oktober 2009 dimainkan oleh 25 juta orang. Masih kalah dari peringkat 1, FarmVille, yang mencapai 55 juta orang per bulan, terbit 4 bulan lalu. Farm Town, Pet Society, Street Racing, Texas HoldEm, dan banyak lagi permainan berbasis sosial di Facebook. Sebagian pemakai Facebook mungkin jengkel mendapat undangan bermain secara bertubi-tubi, ibarat spam. Tapi begitulah, social games laris manis dimainkan banyak orang.

Facebook sendiri memang fenomena, dapat menjaring begitu banyak penggemar dalam waktu singkat. Mereka yang awalnya gaptek dengan Internet atau email, tak mau ketinggalan, ikutan eksis lewat mobile device. Kadang menjadi suatu pertanyaan, apakah gejala ber-Facebook ria akan menyurut? Boleh jadi orang akan bosan meng-update status, memberi komentar, menandai foto, bermain kuiz, atau rutinitas lain. Salah satu sebab, karena targetnya tidak jelas.

Namun dengan Facebook sebagai platform sosial, di mana banyak aplikasi online dibangun secara terbuka, beribu peluang terbangun. Salah satu yang mendapat manfaat besar adalah game. Tidak harus dengan animasi yang canggih, grafis yang menawan, studio dan pemrogram dengan skala besar. Pemicu awal bisa melalui permainan sederhana tapi menarik orang bergabung. Efek sosial selanjutnya berperan, menggelinding dan berlipat ganda. Infrastruktur dapat dibangun bertahap, sesuai skalabilitas permainan.

Saat ini diperkirakan 100 juta pemakai Facebook yang ikut serta dalam aplikasi permainan, atau sekitar 30%. Zynga, pembuat Mafia Wars dan FarmVille, merupakan pengembang terbesar, dikabarkan meraup penghasilan $150 juta di 2009. Dibanding $45 milyar di media lain seperti PlayStation dan XBox tentu jomplang. Tapi peluang ke depan sangat terbuka. Produsen game besar seperti Electronic Arts dan Ubisoft tengah bersiap-siap. Semakin ramai persaingan di kancah online, kuantitas dan kualitas permainan akan kian meningkat.

Apa yang membuat social games ini digemari banyak orang? Sederhana saja, karena manusia makhluk sosial. Sosialisasi menjadi kebutuhan tak terpisahkan. Terlibat dalam kerjasama atau kompetisi, apalagi dengan pelaku-pelaku nyata, memberikan sensasi tersendiri. Saya teringat dengan game yang sangat populer di PC, Counter Strike. Melawan bot sebentar saja, rasa bosan muncul. Bermain beramai-ramai dengan tim seperjuangan, waktu berlalu tanpa terasa.

Mengail uang di dunia maya juga butuh kesabaran tersendiri. Loyalitas pemain dibangun sedikit demi sedikit, dijaga dari hari ke hari. Waktu adalah komponen penting dalam banyak social games, misalnya menunggu tenaga pulih atau saat panen tiba. Di sinilah uang bisa ditarik, yaitu menjual waktu. Pemain yang ingin secara cepat mendongkrak kemampuan dan level, bisa membeli barang-barang virtual yang disediakan. Zynga terbukti sukses menggunakan model bisnis ini.

Pengguna Facebook yang berasal dari Indonesia diperkirakan cukup besar, dengan potensi yang lumayan dahsyat. Buktinya, perseteruan Cicak vs Buaya direspon 1,2 juta simpatisan hanya dalam waktu seminggu. Andaikata, sebuah permainan sosial ala Indonesia diminati 100 ribu pemain, 10%-nya bersedia membayar 50 ribu, akan terkumpul Rp 500 juta. Uang yang tidak sedikit.

Nah, rasanya menarik bila Cicak vs Buaya dijadikan permainan Facebook. Penggemarnya berlimpah ruah. Hadiahnya bukan Godfather point ala Mafia Wars, tetapi Godzilla point. Saya teringat lirik lagu Terang Bulan, “buaya timbul disangkalah mati … berani sumpah tapi takut mati”. Wah, Anda pilih cicak atau buaya?

* Dimuat di PC Media Edisi 01/2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s