Migrasi Teknologi

image Perkembangan teknologi informasi terasa begitu pesat. Sepintas seperti itu. Namun nyatanya perubahan tidak secepat yang diharapkan, apalagi bila melibatkan banyak pihak.

Baru saja kita menunaikan kewajiban sebagai warga negara, yaitu memilih presiden dan wakil presiden. Setelah sebelumnya para capres dan cawapres berusaha dengan segala cara menarik simpati rakyat, pada akhirnya rakyat juga yang menentukan. Apakah kali ini terjadi pergantian pemimpin bangsa? Kita lihat hasilnya nanti. Pemilu adalah proses politik yang terjadi secara berkala, dengan satu esensi utama, yaitu melakukan perubahan. Perubahan ke arah yang lebih baik.

Seiring dengan semangat perubahan, persis di balik bumi sana terjadi pula migrasi teknologi. Amerika Serikat pada 12 Juni lalu melakukan peralihan dari siaran TV analog ke TV digital. Memutus total TV analog yang memiliki sejarah panjang, bukanlah perkara mudah. Hingga detik-detik terakhir sekitar 2,8 juta TV (2,5%) tercatat belum siap, dan ratusan ribu keluhan berdatangan via telpon. Meskipun AS adalah negara kesekian yang melakukan migrasi, tapi terbesar dari segi sebaran penduduk dengan kondisi geografis yang sangat beragam.

Perubahan pada siaran TV mengingatkan pada PR besar para penggiat jaringan Internet, yaitu migrasi dari IP versi 4 (IPv4) menjadi IP versi 6 (IPv6). Sejak IPv6 dicanangkan tahun 1998, penetrasinya berjalan sangat lambat. Hingga Maret 2008 diperkirakan hanya mencakup 0,25% dari keseluruhan host. Padahal diperkirakan jatah IPv4 (32-bit) akan habis pada tahun 2011. IPv6 (128-bit) memang dirancang khusus untuk mengatasi hal tersebut.

Mengapa begitu lambat? Sejumlah masalah merebak, terutama berujung pada kompatibilitas perangkat keras dan lunak, serta ketersediaan host dan ISP. Ibarat bola salju, gumpalan dari IPv4 sudah sedemikian besar, sehingga evolusi alami yang diharapkan sulit terjadi. Tidak ada pihak yang ingin menanggung resiko terasing dari jaringan. Bila dikaitkan dengan bisnis, sedikit pengunjung berarti sedikit pemasukan, hal ini merupakan masalah besar.

Contoh lain sulitnya melakukan migrasi adalah protokol e-mail atau SMTP. Sejak diluncurkan tahun 1982, hingga saat ini nyaris tidak terjadi perubahan. Bilapun terdapat tambahan, sifatnya hanya perluasan dari yang ada dan bukan perintah wajib (mandatory). Tak heran bila mengirim file binary melalui e-mail tetap menggunakan format Base64 (7-bit), akibat rancangan awal SMTP seperti itu. Padahal transmisi 8-bit sangatlah umum digunakan, seperti protokol web atau HTTP yang menggunakan 8-bit tanpa masalah.

Di lain pihak kompleksitas e-mail kian hari kian tinggi. Misalnya saat serangan spam (e-mail yang tidak diinginkan) begitu mengganggu. Hal ini seharusnya bisa ditanggulangi di level protokol, dengan melakukan pengecekan pengirim yang sah. Inisiatif seperti Sender Policy Framework (SPF) sebenarnya cukup membantu. Namun akibat tidak mandatory dan bersifat parsial, kembali tidak ada pihak yang bersedia menanggung resiko gagal mengirim atau menerima e-mail. Pelaksanaan di lapangan menjadi serabutan.

Memutus rantai teknologi di Internet tampaknya jauh lebih sulit ketimbang mengubah TV analog menjadi digital. Bila FCC mengontrol regulasi telekomunikasi di AS, tidak begitu dengan Internet yang mendunia. Secara formal IETF bertugas membuat standarisasi protokol dan IANA mengatur alokasi alamat Internet. Tapi implementasi di lapangan banyak bergantung pada operator jaringan atau ISP, dengan tingkat kesiapan yang berbeda-beda antar negara. Belum lagi pihak yang terkait lebih banyak, dari administrator server, teknisi jaringan, pembuat program hingga pemakai akhir. Semakin banyak pihak yang terlibat, mengakibatkan kompleksitasnya yang semakin tinggi.

Bagaimanapun, suka atau tidak, cepat atau lambat, migrasi teknologi pasti terjadi. Seringkali banyak pihak tidak bergerak sebelum merasa terdesak atau terganggu kegiatan ekonominya. Kajian teknologi sesuai kompetensi masing-masing perlu dilakukan secara berkala. Seperti halnya pemilihan presiden yang bertujuan membuat rakyat lebih baik, teknologi yang baru sejatinya membuat keuntungan lebih baik bagi penggunanya. Semakin baru semakin baik.

* Dimuat di PC Media Edisi 08/2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s