Kaya Tanpa Kerja

uang panas Bekerja dan menghasilkan uang adalah biasa. Internet membuka banyak peluang baru. Bagaimana bila tanpa bekerja uang mengalir sendiri ?

Artikel di blog saya tentang multi level marketing mengundang beragam komentar. Pendapat pro dan kontra datang silih berganti. Tampaknya usaha mencari uang di jagad Internet menarik perhatian banyak orang. Hal yang wajar bila disertai etika berbisnis yang baik. Namun menjadi problematik bila yang timbul adalah kemalasan bahkan penipuan oleh masing-masing pihak, entah itu menipu diri sendiri maupun menipu orang lain.

Dalam bisnis apapun kejujuran dan azas manfaat menjadi pondasi utama. Membeli e-book seharga Rp 180.000 dan berusaha mendapatkan keuntungan milyaran rupiah tentu sangat tidak wajar. Ada hal yang ditutup-tutupi di sini. Manfaat pun sangat dipertanyakan, apalagi bila potensial menimbulkan kerugian bagi pihak lain.

Akhir 2008 lalu, di tengah runtuhnya pasar modal dunia, Bernard Madoff ditangkap pihak berwenang di AS. Ia didakwa melakukan ‘Ponzi scheme’ melalui bisnis investasi palsu, menyebabkan investor rugi hingga 65 milyar dollar. Pengawas Sekuritas AS mengutip pengakuan Madoff, "Semuanya hanya sebuah kebohongan besar." Juni 2009 pengadilan menjatuhkan hukuman 150 tahun penjara untuk Madoff.

Sewaktu saya mencari di Google, "atm gratis tarik tunai", muncul ratusan hasil yang berisi "rahasia tarik tunai ATM gratis". Gratis di sini bukan hanya biaya tariknya, tapi saldo kita bahkan tidak berkurang. Tidak percaya? Bacalah testimonial sejumlah orang di situ. Untuk memperoleh rahasia ‘tarik uang gratis’ ini pembeli dipungut sejumlah biaya. Memang sulit dicerna akal sehat, tapi itulah adanya.

Lihat pula usaha tipu-tipu melalui Search Engine Optimization. Di sini uang mengalir dari bayaran iklan, seperti Google AdSense. Beriklan di situs web tidaklah salah, tetapi mengakali pengunjung agar datang dengan trik menjurus penipuan itu cara yang tidak benar. Seperti contoh di atas, niat awal mencari bank yang membebaskan tarik tunai di sembarang ATM tidak kesampaian. Google perlu berjuang lebih keras agar informasi sampah dan menyesatkan ini tidak mengalahkan informasi yang sebenarnya dibutuhkan.

Selama ini masyarakat dihujani media dengan manfaat berinvestasi sejak dini. Misalnya melalui deposito, reksadana, saham, pasar uang, dan sejenisnya. Efek baiknya, orientasi penggunaan uang berubah dari konsumtif menjadi produktif. Efek buruknya, masyarakat menjadi tamak dan menghalalkan segala cara. Cukup dengan ongkang-ongkang kaki dan duit akan datang sendiri.

Seperti kata peraih Nobel Muhammad Yunus, ketamakan telah merusak sistem keuangan dunia. Kapitalisme menjadikan pasar finansial tak ubahnya kasino atau bandar judi. Pasar modal maupun komoditas menjadi ajang para spekulan mencari keuntungan sebesar-besarnya. Teknologi informasi membuat praktek-praktek spekulasi tidak mengenal batas. Keguncangan finansial akibat ulah spekulan di AS dengan cepat merambat ke seluruh penjuru dunia. Tak ketinggalan bursa saham Indonesia amblas lebih dari separuhnya.

Paradigma berpikir kita tentang bekerja dan uang tampaknya perlu diluruskan. Benar bahwa setiap orang berhak atas penghidupan yang layak, ini dijamin UUD. Namun perlu disertai usaha yang cukup dan saling memberi manfaat. Bisnis yang baik tidak menggunakan prinsip ‘zero sum game’, di mana keuntungan di satu pihak adalah kerugian di pihak lain. Skema piramida seperti di MLM hanya menguntungkan sebagian kecil yang di atas dan merugikan sebagian besar di bawah. Kita mungkin bukan korban secara langsung, tapi pasti mengakibatkan korban berikutnya.

Cara bersandar yang paling bijak adalah sesuai tuntunan agama. Menggunakan akal semata hasilnya hanya sejauh yang kita tahu. Padahal kemampuan kita terbatas, efek di balik suatu perbuatan tidak kita pahami sepenuhnya. Bila agama melarang spekulasi dan perjudian, itu bukan sekedar persoalan untung atau rugi. Mari kita ingat selalu pesan Nabi, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lain.” Bekerjalah sebaik-baiknya, memberi manfaat sebesar-besarnya. Bila tidak kaya di dunia, mudah-mudahan nanti di akhirat.

* Dimuat di PC Media Edisi 09/2009

3 Komentar »

  1. setuju, harus berdasar tuntunan agama, terlebih lagi kita harus usaha kemudian menuai hasilnya.. yg penting usaha dan ikhtiar, diimbangi dengan doa. insya Allah mujarab..

    salam hangat.. salam semangat..😉

    • Oguds said

      Waduh, baru diedit sudah ada komentar, hehe, trims. Betul, mencari rejeki harus mengikuti tuntunan agama agar tenang lahir dan batin, dunia dan akhirat.

  2. cakhadi said

    setuju mas bos !

    itulah uang memang menggiurkan sekali…
    Coba mulai dari bisnis dbs sampai yang ada sekarang smart v alah-alah motivnya juga sama juga cuman beda car saja

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s