KRL-ku Tak Berhenti Lama

abo_2010_kc Kembali ke rutinitas, kembali ke transportasi massal. Pilih mana: Ekonomi, Ekonomi AC, atau Ekspres? Mau cepat dan nyaman, pakailah Ekspres. Cukup cepat dan cukup nyaman, ya Ekonomi AC. Kurang cepat dan tidak nyaman, ya tinggal Ekonomi. Pilihan sesuai kondisi kantong masing-masing.

Naik KRL itu sebenarnya identik dengan keteraturan. Jalannya teratur,  jadwal berangkatnya juga teratur. Perlu strategi tertentu agar hasilnya optimal. Sebab itu, KRL tidak dianjurkan bagi mereka yang perginya tidak jelas atau jarang naik KRL, karena malah menghabiskan waktu untuk menunggu.

Sesuai kondisi kantong, yang amat sangat terbatas ini, pilihan hanya 2: Ekonomi atau Ekonomi AC. Meski saya bukan masochist (suka menyiksa diri, red) tapi rasanya naik KRL Ekonomi lebih menyenangkan. Di sini kita bisa lebih ‘merakyat’ (ceile), berbaur dengan begitu banyak lapisan masyarakat. Mulai dari pelajar, pegawai, pedagang, pengemis, pengamen sampai copet. Berdesak-desakan, berjibaku sesama penumpang, bertahan hidup hingga titik darah penghabisan (lebay bow).

Sebenarnya, dengan mengatur jam pergi dan berangkat dengan benar, didapat KRL yang murah lagi meriah. Misalnya, untuk ke kantor (Depok – Monas) saya bisa naik KRL Depok – Kota yang tidak padat. Jamnya, 08:18 dan 10:20. Kalo lagi ‘rajin’ ya pagian, kalo tidak ya siangan. Di jam 9-an, setidaknya ada 3 KRL dari Bogor yang mampir di Stasiun Depok Baru, 09:02, 09:21, dan 09:44. Sejak adanya KRL Ekonomi AC, beberapa rute KRL Ekonomi menjadi hilang digantikan kereta tersebut.

Sebaliknya untuk pulang, bisa naik KRL Ekonomi (satu-satunya) dari St. Tanah Abang, jam 16:25.
Resikonya, harus pulang teng-go, tepat jam 16:00 dari kantor. Enaknya angkutan ke St. Tanah Abang sangat banyak, tak perlu menunggu lama. Bandingkan dengan ke St. Juanda, menunggu bus lewat ke arah Senen (akibat banyak dipangkas Busway) bisa 30-an menit. Akibat bus yang tidak jelas, jadwal KRL menjadi amburadul.

Menghitung Waktu

Kebetulan lagi iseng, saya mencoba menghitung secara pasti berapa lama perjalanan dari RMH ke KTR. Naik motor ke St. DPB, sekitar 15 menit + 5 menit parkir, jalan, dst. Lalu dari DPB ke JUA, sekitar 50 menit. Dari JUA ke KTR, naik ojek 10-an menit atau Busway 20-an menit. Total sekitar 90-an menit. Sebaliknya, KTR – THB, nunggu, dst, sekitar 20 menit, THB – DPB 50 menit, DPB – RMH 20 menit. Total juga 90-an menit.

Dilihat dari sini, persentase ritual non KRL cukup besar, yakni 44%. Jarak yang pendek, tapi memakan waktu cukup lama. Belum lagi bila KRL-nya bermasalah, entah sinyal rusak, listrik mati, mogok, dst. Dengan kondisi tidak lancar jaya, bisa-bisa habis waktu 2 jam-an untuk mencapai kantor atau rumah.

Bagaimana bila naik motor? Kisaran yang wajar dari RMH ke KTR, atau sebaliknya, kondisi normal antara 1,5 jam s/d 2 jam, kondisi tidak normal (seperti bulan puasa) bisa mencapai 3 jam. Tampaknya tidak berbeda jauh dari KRL, tapi pegel bin stres, pantat terasa panas. Naik KRL kan tinggal berdiri + gelayutan saja, sukur-sukur ada yang bisa dilihat-lihat (hehe).

Menghitung Biaya

Jarak Depok – Monas bila ditarik garis lurus (di Google Earth) sekitar 25 KM. Ditambah kondisi jalan yang berliku-liku, menjadi sekitar 30 KM. Ditambah lagi jarak RMH – DPB menjadi 35 KM. Pulang dan pergi total 70 KM. Dengan konsumsi bensin motor per liter = 50 KM, maka dihabiskan sekitar 1,5 liter atau dibulatkan menjadi Rp 7.000 per hari. Ditambah biaya perawatan, suku cadang, dst, yang cepat aus akibat jarak jauh menjadi total Rp 250 rb per bulan (25 hari kerja).

Menggunakan abonemen KRL Ekonomi (Rp 45.000), ditambah parkir stasiun (Rp 2.000), angkutan umum ke kantor PP (Rp 6.000), bensin motor + perawatan (Rp 50.000), total menjadi Rp 300.000. Lebih mahal pasti, tapi selisihnya hanya Rp 50.000. Komponen paling mahal di sini ternyata ongkos angkutan umum yang mencapai 50%. Bila ditambah biaya kehilangan handphone, ya tentu lain urusan lah yaw.

Revitalisasi KRL

Kabar baik bahwa Pemda DKI dan PTKA menyadari pentingnya angkutan massal seperti KRL ini. Kementerian Perhubungan mempersiapkan anggaran 28 trilyun untuk revitalisasi perkeretaapian Jabodetabek hingga 2014. Direncanakan KRL akan mampu mengangkut 3 juta penumpang per hari, 6x dari saat ini pada tahun 2014. Nantinya tidak ada lagi KRL Ekspres dan KRL Ekonomi, hanya tersedia KRL Ekonomi AC dengan tarif tunggal.

Perhatian pemerintah tergolong sangat terlambat di bidang kereta api, padahal ini solusi paling efektif sebagai sarana transportasi massal. Dunia mencatat China sebagai negara paling agresif dalam mengembangkan jaringan kereta api, yang mencapai 86.000 KM di akhir 2009 (Wikipedia). Dibanding Indonesia yang jalur aktifnya hanya 4.360 KM (Ditjen Kereta Api, 2006) tentu jomplang sekali.

Pada November 2009 lalu, Warren Buffet membeli BNSF Railway (perusahaan KA di AS) sebesar 44 milyar dolar, investasi terbesar dalam hidupnya. Tentu ia punya prediksi akan masa depan transportasi KA. Di sisi lain, maskapai penerbangan terbesar se-Asia Japan Airlines (JAL), mengumumkan kebangkrutan pada Januari 2010. Kebangkrutan JAL merupakan yang terbesar di Jepang selain bidang finansial, dengan hutang mencapai 22 milyar dolar. Sekedar membandingkan 2 moda transportasi, tentu dengan banyak parameter berbeda.

Demikianlah, memang sudah saatnya moda transportasi KA terutama KRL diberdayakan. Kapasitas angkut ditambah, kenyamanan diperbaiki, dan jaringan diperluas. Transportasi jalan raya sudah nyata menimbulkan banyak kerumitan dan pemborosan. Apalagi bagi rakyat Indonesia dengan tingkat disiplin rendah. Mengatur 1 kepala pasti lebih mudah dibanding 1000 kepala. So, kapan saya bisa jalan kaki dari rumah ke stasiun terdekat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s