Pasar NKRI Belum Siap Cloud Computing?

cloudSalah satu media online menyebutkan ini: “Cloud computing merupakan teknologi yang memanfaatkan jaringan yang menganggur atau sedang tidak digunakan saat itu.” Salah satu manfaat cloud computing memang membagi beban, tapi hal pokoknya bukan itu. Analogi yang pas itu seperti jaringan listrik, jadi sumber daya (data, komputasi) dilakukan secara terpusat.

Sebenarnya Indonesia telah menjadi pasar ‘cloud computing’ nomor 3 di dunia, yaitu pengguna Facebook. Facebook sangat berhasil sebagai portal aplikasi-aplikasi sosial, di mana user berinteraksi tanpa terhalang sekat-sekat organisasi. Akhirnya pasar terbentuk juga toh, tanpa menyatakan siap atau tidak siap. Kalo Facebook menunggu BB populer sebelum mulai, ya keburu jenggotan dulu kali.

Kalau grid computing servernya di mana-mana, di mana softwarenya bisa mencari mana server yang nganggur.. dan untuk melakukan komputasi secara paralel.

Grid dan cloud computing konsepnya mirip-mirip, yaitu "single points of access for all consumers computing needs" (mengutip di Wikipedia). Prakteknya cloud condong ke infrastruktur terpusat, sedangkan grid memang tersebar (multiple organization). Mengenai mencari server yang nganggur, ya itu keduanya juga bisa (teknik membagi beban). Tapi tujuan pokoknya bukan itu, melainkan kutipan di atas.

Cloud computing berbasiskan pada jargon yang telah lebih dulu terkenal yaitu "software as a service (SaaS)". Basisnya memang itu.

Saya tidak tahu kesimpulan mana yang dianggap menyimpang, dan siapa yang bersepakat dengan kesimpulan tersebut. Tidak menanggapi bukan berarti setuju bukan? Saya tidak ingin banyak berpolemik soal istilah grid atau cloud computing, setiap pihak bisa saja mempunyai pandangan berbeda, asal punya argumentasi yang memadai. Sejak awal saya sudah mencontohkan analogi dari grid atau cloud computing, yaitu jaringan listrik. Ini sesuai ide awal grid computing menurut Ian Foster.

Referensi cukup lengkap ada di Wikipedia:
http://en.wikipedia.org/wiki/Cloud_computing
http://en.wikipedia.org/wiki/Grid_computing

Infrastructure-as-a-Service (IaaS), Platform-as-a-Service (PaaS), Software-as-a-Service (SaaS), dan seterusnya, ya silakan saja. Bila referensi di Wikipedia di atas kurang, silakan ditambahkan lagi di sana.

Nah, sudah siapkah cloud computing dilakukan di Indonesia dengan kondisi infrastruktur yang ada sekarang? Ini jelas tergantung layanan apa yang ingin dikerjakan aplikasi dan persyaratan dari layanan tersebut. Misalnya keperluan blogging di WordPress.com, ini bisa dianggap contoh cloud computing yang sudah berjalan dengan baik selama ini. Tidak ada yang baru sebenarnya di sini.

Sebab itu, saya mengatakan infrastruktur cloud computing condong secara terpusat, demi mengatasi kendala jaringan / infrastruktur yang bermacam-macam. Tinggal bagaimana hasilnya pengoperasian secara intensif aplikasi yang terpusat ini dari daerah-daerah, misalnya implementasi e-KTP. Tentu rekan-rekan yang lebih berkompeten bisa menjawab hal ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s