Blogger vs UU ITE

uu_ite Ketika Belanda menyusun KUHP Internet belumlah ada. Perlu patch kecil agar hukum pidana tersebut mampu menjangkau dunia maya. Semua akan baik-baik saja.

Awal Mei 2009 bukanlah hari yang cerah bagi sebagian jurnalis elektronik Indonesia. Ada apa gerangan? Pengujian Pasal di UU Informasi dan Transaksi Elektronik tentang penghinaan dan pencemaran nama baik ditolak oleh Mahkamah Konstitusi. Dua pemohon sekaligus kandas di hari yang sama.

Pasal 27 ayat (3) berbunyi, ”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.”

Ada 2 hal pokok dari putusan tersebut. Pertama, Pasal 27 ayat (3) ini hanya menambahkan karakteristik khusus di bidang elektronik atau dunia maya. Konstitusionalitas pasal tersebut mengacu pada pasal-pasal KUHP tentang penghinaan. Kedua, penentuan besar hukuman pada Pasal 45 ayat (1) merupakan kewenangan pembuat UU. Masalah pada praktek penegakkan hukum bisa diselesaikan melalui pengadilan atau Mahkamah Agung.

Sengaja dan Tanpa Hak

Sebagian pihak khawatir dengan cakupan distribusi, transmisi dan membuat dapat diaksesnya informasi elektronik. Bukankah itu terlalu luas? Jawabannya: ya, semua upaya yang memungkinkan tersampaikannya informasi masuk dalam kategori ini. Baik itu pembuat, penerbit, perantara, penyedia hosting, hingga ISP, bisa dijerat pasal ini.

Tampaknya hal di atas cukup meresahkan. Namun demikian, unsur “dengan sengaja dan tanpa hak” di pasal ini merupakan satu kesatuan bentuk kumulatif dan harus dibuktikan oleh penegak hukum. Dengan kata lain, perbuatan tersebut memang diketahui dan dilakukan secara sadar, dengan tujuan penghinaan atau pencemaran nama baik seseorang.

Kebebasan berpendapat harus diimbangi perlindungan terhadap martabat pihak lain.

Bagaimana dengan pers? Kalangan pers sudah memiliki payung hukum sendiri, yaitu UU Pers, sehingga legitimasi haknya terpenuhi. Dinyatakan di situ, bahwa Pers Nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah.

Delik Aduan

Di era web interaktif ini, bagaimana setiap pihak menyikapi UU ITE? Resepnya sederhana, menghindari berlakunya unsur sengaja dan tanpa hak di atas. Pihak-pihak yang merasa dirugikan bisa segera mengajukan keberatan dan meminta koreksi. Pihak yang mempunyai akses mencukupi, misalnya pemilik blog, dapat mengadakan perbaikan yang perlu. Respon yang cepat, misalnya lewat e-mail, sangat diperlukan.

MK pun telah menegaskan bahwa Pasal 27 ayat (3) merupakan delik aduan. Artinya, pasal ini tak bisa seenaknya dikenakan kepada orang yang dituduh menghina. Harus ada aduan dari orang yang merasa dihina untuk dapat diajukan ke pengadilan. Tentu disertai pula pembuktian yang memadai, baik identitas si pelapor maupun bentuk kerugian yang terjadi.

Cermin Bersama

Jurnalis online dan blogger, sebagai pemohon, menyatakan kecewa atas putusan sidang. MK dianggap mengekang kebebasan berekspresi. Mereka mencari cara lain, yang sah, untuk menghapuskan pasal pencemaran nama baik. Mungkinkah? Sulit. Uji materi sanksi penjara pada pasal penghinaan dalam KUHP pun telah ditolak. Putusan MK adalah final. Mereka hanya bisa berharap pemerintah dan DPR melakukan legislative review.

Kini yang lebih dibutuhkan adalah kehati-hatian dan pembenahan diri. Pemerintah atau pihak yang berkuasa tidak lagi mudah mengunakan alasan penghinaan untuk menghindar dari sorotan publik. Blogger tidak lagi mudah mengumbar tulisan atau komentar yang dapat merugikan pihak lain. Hukuman pasal pencemaran ini cukup menakutkan untuk sekarang: denda 1 milyar dan 6 tahun penjara.

* Dimuat di PC Media Edisi 07/2009

1 Komentar »

  1. setuju. kita memang harus sadar sepenuhnya dengan apa yang telah kita tulis atau katakan.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s