Pemilu 2009 dan Teknologi

pemilu Hiruk pikuk politik nasional telah melewati satu babak. Permasalahan muncul di sana-sini. Pengolahan data raksasa tidak diikuti pengelolaan sistem yang baik.

Tanggal 9 April 2009 bangsa Indonesia melaksanakan hajat politiknya, yaitu pemilihan umum legislatif. Ada beberapa hal yang baru, misalnya tidak lagi mencoblos tapi mencontreng. Anggota legislatif tidak hanya terpilih berdasarkan nomor urut dari partai tapi berdasarkan suara terbanyak, dipilih secara langsung. Kampanye dengan poster calon legislatif bertaburan di seluruh pelosok nusantara.

Meskipun berjalan relatif lancar, tapi banyak pihak menilai kualitas pelaksanaan pemilu kali ini turun jauh dari pemilu 2004. Hal mencolok yang terjadi merata di berbagai daerah adalah kesemrawutan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Begitu banyak mereka yang berhak memilih tidak tercantum dalam DPT. Pemutakhiran data ala KPU ternyata menghasilkan data yang jauh dari mutakhir. Bila di pemilu 2004 terdaftar untuk mencoblos, mengapa di tahun 2009 gagal mencontreng? Sistem dengan hasil lebih buruk akan sulit untuk dimaafkan.

Perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesat dalam 5 tahun terakhir ternyata tidak menjamin pelaksanaan pemilu menjadi lebih baik.

Apa sebab pemilu 2009 ini begitu amburadul? Tidak ada penjelasan memadai dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Barangkali inilah persoalan sesungguhnya, yaitu KPU tidak tanggap atas permasalahan yang terjadi. Laporan kesemrawutan DPT sudah disampaikan berbagai pihak jauh-jauh hari. Alih-alih melakukan tindakan yang perlu, KPU malah nekat mengumumkan kesiapan 100%. Faktanya kemudian, golongan putih diduga mencapai 40% (versi Puskaptis), tertinggi dalam sejarah pemilu di tanah air.

Tak kurang seorang Amien Rais mempertanyakan kesahihan software yang digunakan KPU. Tanpa audit software yang layak dari pihak-pihak terkait, bukan mustahil manipulasi data dapat terjadi. Carut-marutnya DPT membuktikan hal ini. Apakah hal tersebut akibat proses pendataan yang tidak akurat ataukah masalah pada software seperti database? Tentu riskan bila database yang digunakan ngadat. Namun mengingat begitu masifnya data dan petugas pendata yang terlibat, kesalahan ini sangat mungkin terjadi.

Kejadian di pemilu 2004 menjadi catatan tersendiri. Walau KPU telah menjamin keamanan data hingga 7 lapis, server berada di tempat tak tersentuh, hasilnya kemudian cukup menghebohkan: situs KPU bobol. Nama-nama partai berubah menjadi buah-buahan. Meskipun tidak sampai mengacaukan penghitungan suara tapi hal ini cukup mengganggu kredibilitas penyelenggaraan pemilu.

Selain masalah software, pemilu lokal maupun nasional sangat minim inovasi. Sejak dulu hingga sekarang prosesnya nyaris tidak berubah, memilih pada kertas. Kertas suara berukuran besar berisi 38 partai dan ratusan calon legislatif. Memilihnya lama, menghitungnya apalagi. Membuat, mengedarkan, dan menyimpan suara 171 juta warga negara butuh waktu, biaya dan tenaga sangat besar. Serba tidak efisien dan tidak efektif.

Negara berkembang seperti India dan Brazil telah berhasil mengadakan pemilu elektronik. Hasilnya lebih aman, murah, dan cepat. Estonia bahkan telah melakukan pemilu lewat Internet dan berencana pula melalui telepon seluler. Sudah selayaknya pembuat kebijakan dan pemerintah mulai berinisiatif untuk melakukan pemilu menggunakan mesin elektronik. Tentunya setelah transparansi proses dan audit sistem berjalan baik.

Kekisruhan DPT juga mengingatkan PR besar pemerintah yang belum terselesaikan, database kependudukan. Wacana Single Identity Number (SIN) telah lama digaungkan, tetapi tidak kunjung menjadi kenyataan. Hambatan birokratis antar instansi masih mengganjal. Bila SIN terwujud, pengumpulan data tidak lagi berdasarkan kepentingan sepihak, melainkan terpadu dan lintas sektoral. Pemilu menggunakan KTP tidak lagi dibayangi ketakutan akan penggelembungan suara.

Bagaimanapun hajatan besar pemilu 2009 diharapkan berjalan sukses, melahirkan parlemen dan pemerintahan yang legitimate. Berbagai kekurangan pada pemilu legislatif diharapkan tidak terjadi pada pemilihan presiden. Perlu pembenahan secara fundamental menghadapi pemilu 2014 nanti. Kepercayaan pada teknologi harus segera dibangun bila tidak ingin mengalami masalah yang sama berulang-ulang. Bila tidak dimulai sekarang, kapan lagi ?

* Dimuat di PC Media Edisi 06/2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s