Petisi Online : Say No To Puyer

liputannya kl mau membaca biar ndak menuduh sana-sini..bisa dibaca dengan lengkap di http://puyer.wordpress.com

image Cukup menarik informasi di blog itu, paling tidak ada pencerahan. Namun lebih tepat kebijakan anti puyer ini diterapkan di lingkungan dokter dahulu, misalnya Depkes atau Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Prinsipnya mudah, mereka yang memulai mereka pula yang mengakhiri. Bila penjelasan yang diberikan dokter memadai dan dapat dimengerti pasien, tentu mengubah ‘kesesatan’ tersebut bukan hal sulit.

Menurut pengalaman saya, soal dokter itu lebih pada kepercayaan. Pemilihan dokter juga lewat cara-cara tradisional: mulut ke mulut. Biar jauh dan antri panjang, tapi hasilnya manjur dan memuaskan, pasti akan didatangi. Sehingga apakah obat itu berbentuk puyer, tablet, sirup, suntik, jamu, dst, bukan suatu masalah.

Fenomena ini yang baru-baru ini mengemuka: dukun cilik Ponari. Kalo saya tidak salah dengar, 1 hari dijatah 5 ribu orang. Luar biasa bukan? Saya belum pernah dengar dokter yang bisa menangani pasien sebanyak itu. Apakah Ponari memberi puyer, sirup bermerek atau air putih, rasa-rasanya tidak perlu dipermasalahkan.

Menyinggung sedikit soal obat, ipar saya yang terkena demam berdarah + pengentalan darah, diberi obat suntik yg bisa dikerjakan sendiri. Saya baru lihat dan berpikir, jangan-jangan nanti semuanya bisa dikerjakan sendiri. Bila terjadi luka dalam cukup diresepkan jarum + benang jahit (instan) yang dikerjakan mandiri. Dokter benar-benar sebagai konsultan kesehatan. Jadi ingat film Rambo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s