All About Delphi dan Wawanca Kerja

AM> delphi, java, n C++ kan fungsinya sama, untuk bwt program. Trus,
AM> keunggulan n kelemahan dari masing-masing program tersebut

Sebelumnya, selamat datang pada rombongan yang baru masuk. Menurut wangsit dari Mbah Google, kalian berasal dari Univ. Airlangga angkatan 2006 (CMIIW). Sudah 5 semester berjalan, harusnya dari banyak pertanyaan yang dilontarkan, jawabannya bisa dicari dari arsip atau petunjuk si-Mbah tadi. Mungkin dosen kalian ‘alumni’ milis ini, sehingga mewajibkan ikut ke sini, demi kesempurnaan nilai (hehe).

Pertanyaan di atas mengingatkan percakapan saya via YM dengan rekan Wisnu Widiarta: “oguds: urutannya mungkin c, c++, java, c#, php; wishknew: setuju”. Begitulah 2 programmer Delphi bersepakat. Situasi saat ini, di mana bahasa scripting, web, multi-platform, open source, berkembang, Delphi semakin terpinggirkan. Michael Swindell pernah bilang pengembang Delphi berjumlah 2 juta, ditambah kalian menjadi 2.000.014 orang. Cukup banyak, tapi entah bersembunyi di mana.

Untuk konsumsi akademis, dari yang saya temui atau paper-paper penelitian terkini, berkisar Matlab, C/C++, Java, Perl, Python, PHP. Memakai Delphi / Pascal sangat tidak disarankan, karena jarang pemakai. Tentu binding ke library misalnya SVM bisa dilakukan, tapi apakah cara kerja SVM tersebut tidak perlu diketahui? Momen yang baik bila pengerjaan tugas akhir menggunakan bahasa yang diterima oleh umum / peneliti.

Di milis ini ada yang memberi saran, perdalam Delphi hingga (misalnya) ke cara kerja komponen, dan seterusnya. Dalam situasi terkini, menjadi spesialis tidak lagi bermanfaat. Kecuali bila itu pekerjaan kita. Tidak lagi bermain di level mesin tapi manusia: algoritma, analisa, rumus, metodologi, dan seterusnya. Manfaatkan betul kolaborasi pekerjaan sekian ribu developer. Misalnya memakai Joomla atau WordPress, dengan seketika ribuan extension atau plugin tersedia.

Pada akhirnya, apa yang kalian lakukan pasti UUD. Mendengar dari cerita rekan tentang jobs fair di BSI, pelamar untuk lowongan IT itu segunung banyaknya. Dari data-data CV sebuah fakultas teknik di Depok, pengalaman kerja para pelamar sungguh aduhai (entah bener atau tidak). Maksudnya, persaingan kerja ke depan kian keras, persyaratan kian banyak. Harus mau kerja maksimal hasil minimal. Nanti 10 tahun kemudian bolehlah seperti saya (maunya): gimana caranya dapat duit tanpa kerja.

ZM> Bila ditanya apa beda HTML dan XHTML tidak bisa jawab, itu artinya
ZM> dia bukan calon programmer WEB yang baik. Bagi saya, PHP, ASP dan
ZM> lain-lain server side programming akan bermanfaat ketika

Inilah sisi buruk pewawancara, mereka hanya bertanya hal-hal yang mereka ketahui. Padahal belum tentu yang mereka tahu itu benar-benar penting. Celakanya, mereka menjatuhkan orang hanya gara-gara subyektivitas sesat tadi. Untuk apa beda HTML dan XHTML ditanyakan, bila logika pemrograman seperti PHP dan SQL, masih belepotan? Saya malah berpendapat HTML / XHTML, atau apapun yang tidak perlu diingat, bisa dibaca saja belakangan, toh referensi tentang itu segudang. Belum lagi isu-isu seperti kompatibilitas browser, perubahan standard, dan seterusnya.

Anda pernah ikut TPA yang diadakan Bappenas? Saya pernah, dan hasilnya mengecewakan. Di sisi lain, saya mendapat informasi akurat bahwa kecenderungan perusahaan-perusahaan besar hanya bersedia (tentu tidak perlu disebut jelas) merekrut pegawai dari universitas terkemuka. Saya sering mendebat hal ini, mengapa tidak diberikan kesempatan merata untuk setiap universitas? Mereka pernah, dan lagi-lagi hasilnya mengewakan, lulusan non terkemuka tadi prestasi kerjanya buruk. Sederhananya, tanpa perlu mengerti HTML dan XHTML, toh akhirnya bibit, bobot, bebet yang menentukan hasil. Efeknya mungkin tidak segera, tapi perusahaan apa yang mau mencari pegawai yang sebentaran doank?

Bagaimana bila kita sama-sama berkaca, apa sih perlunya jargon-jargon seperti HTML, XHTML, CSS, XML, SGML, RDF, WSRF, ABCD, EFGH, dan seterusnya, digunakan sebagai acuan wawancara? Toh tinggal buka Google atau Wikipedia, jreng, hasilnya muncul. Mengapa tidak fokus pada wawasan pemecahan masalah? Setiap orang (harusnya) punya solusi yang menurutnya baik, dari situ berkembang ke hal-hal yang detil, dikaitkan dengan perkembangan ICT dan kebutuhan pokok yang berjalan. Pewawancara belajar melihat hal-hal lain dari subyek yang diwawancara. Toh baik atau buruk itu sifatnya relatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s