Usia Pensiun PNS

h> Usia pensiun PNS diusulkan dinaikkan dari 56 tahun menjadi 58
h> tahun. Alasannya, usia harapan hidup orang Indonesia naik menjadi

Menurut saya, pada profesi tertentu dari PNS cukup layak untuk mendapat pensiun pada usia lebih tinggi (bukankah saat ini penjabat fungsional seperti itu?), tetapi secara keseluruhan tentu berlebihan bila kebijakan ini dipukul rata untuk semua pegawai. Di koran yang sama, Sabtu 29 Nov 2008, wacana ini dimentahkan kembali oleh penulis yang lain. Di situ dipermasalahkan ‘kinerja yang baik’ sebagai bahan pertimbangan untuk memperpanjang usia pensiun, yang tentu penilaiannya sangat relatif, sama tidak jelasnya dengan evaluasi pegawai yang saat ini ada.

Harus diakui, pola kerja dan pola pikir PNS yang terbalik, yaitu dibayar baru bekerja atau bekerja untuk menghabiskan uang, sangat kontra produktif dengan profesionalisme. Bekerja di perusahaan swasta, jamaknya tentu dibayar setelah bekerja atau bekerja untuk menghasilkan uang. Pola kerja tidak produktif ini cepat atau lambat akan merusak SDM yang ada, sehingga mempertahankan usia pensiun PNS lebih tinggi pada akhirnya hanya akan menambah parah rusaknya sistem secara keseluruhan.

Perkembangan teknologi yang sedemikian cepat, membuat pegawai dituntut untuk selalu melakukan penyesuaian, demi efisiensi dan efektivitas kerja. Hal ini tidak hanya terjadi pada instansi pemerintah, tetapi juga swasta. Kenyataan yang ada, di Indonesia kesenjangan pemanfaatan teknologi antara generasi muda dan tua cukup tinggi. Generasi mud cenderung untuk reaktif terhadap perubahan, sehingga lebih mudah menyerap teknologi yang ada. Tidak demikian dengan generasi tua yang memiliki kebutuhan dan kompleksitas berbeda. Kesenjangan akan semakin tinggi bila generasi tua ini bernama PNS yang bergerak lamban dan tidak
profesional.

h> Pensiunan PNS kita benar-benar menjadi “askar tak berguna”. Selama
h> menjadi PNS sengsara, saat pensiun lebih sengsara. Saat saya kabari

Saya juga sempat berdiskusi soal PNS sebagai “askar tak berguna” di milis lain, https://oguds.wordpress.com/2008/10/30/pns-vs-non-pns/. Pada intinya, saya heran dengan pendapat ini, karena keputusan menjadi, hidup, berakhir sebagai PNS ada di tangan mereka sendiri. Jadi terimalah kondisi seperti itu atau lakukan sesuatu. Berapa sering kita mendengar di kantor sendiri, keluhan “tidak dapat apa-apa” dari PNS yang menjelang pensiun. Ya pasti tidak dapat apa-apa kalau tidak melakukan apa-apa. Padahal mereka beruntung, tidak melakukan apa-apa, tetapi juga tidak di-apa-apa-in. Bila ini di swasta, tentu akhirnya akan apa-apa-nya donk alias didepak: dang-ding-dong.

Mungkin ini menjadi pelajaran yang baik bagi kita semua, di mana masa-masa pensiun masih panjang. Jangan berharap banyak dari pensiun PNS, lakukan sesuatu sedari awal. Kita mendapatkan beberapa kelebihan dari swasta: susah dipecat, tidak mungkin bangkrut, disiplin rendah, dan waktu berlimpah. Tentu tidak semuanya begitu. Nah, tinggal bagaimana ‘capital gain’ didapat dari kondisi ini. Dalam bahasa dagang: buy low sell high. Pada akhirnya, kita menjual diri koq. Mau PNS atau swasta, kalo memang laku dijual orang akan datang.

Btw, ada yang mengikuti perkembangan ‘lotere nasional’ seminggu terakhir? Akibat rally-rally panjang di bursa dunia, beberapa saham menguat signifikan, terutama perusahaan tambang + terkait seperti ITMG, PTBA, UNTR, termasuk BUMI. ITMG bahkan naik 45% dalam 7 hari. ISAT akibat isu dibeli Qtel naik 20% dalam 2 jam. Resesi itu bukankah kesempatan baik untuk berinvestasi? Sejarah pasti berulang, dan orang masuk ke lubang yang sama berkali-kali. Apa yang bisa kita lakukan? Tinggal ketik: REG <spasi> RAMAL, kirim ke 9999. Kalo ramalan berhasil, bisa pensiun dini lebih cepat lho. Hehehehhh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s