Krisis Uang Dari Angin

emas_2 Berangkat dari posting di suatu milis, yaitu tentang ekonomi syariah, saya teringat pula diskusi yang sama di milis ini. Krisis finansial sekarang ini, membawa angin segar terhadap wacana perlunya beralih dari sistem ekonomi kapitalis ke sistem ekonomi syariah. Namun mengingat perekonomian dunia berkembang sedemkian mutakhir, wacana ini perlu dikritisi lebih mendalam.

Paham ekonomi dalam Islam (yang saya tahu) sangat menjunjung tinggi materialisme, dalam artian sesuatu harus berwujud. Sehingga hal-hal seperti bunga (keuntungan di masa depan) atas uang dan uang kertas (atau apapun yang melebihkan nilai) adalah sesuatu yang riba. Mungkin di
sini riba atas uang kertas terlihat ekstrim, tetapi hal ini bisa dimengerti. Tidak heran bila ada yang menyebut uang kertas sebagai “uang dari angin”, http://islamhariini.wordpress.com/ (akurasi sumber mungkin kurang, tapi lihat pokok pikirannya).

Di sisi lain, pendapat yang menyatakan penyebab dari krisis finansial saat ini adalah “ketamakan yang menyundul langit” memang cukup mewakili. Namun tidak ada hukum positif yang bisa menjerat seseorang atau suatu pihak karena terlalu kaya, kecuali dengan cara-cara yang tidak benar. Termasuk pula larangan dari hukum agama (CMIIW).

Bila dilihat krisis perumahan di AS, sebenarnya hal pokok penyebab di sana adalah kredit macet akibat terjadi investasi berbentuk rumah yang menyundul langit. Rumah di sini tentu bukan “pasir dari angin”, karena barangnya memang berwujud. Namun di perekonomian dunia saat ini, sangat sulit dibedakan antara material dan non material. Akibat yang kita tahu, rumah rontok ditiup angin.

Bagi penganut paham uang dari emas, bulan-bulan terakhir ini tentu bukan kabar menyenangkan, mengingat harga emas jatuh dilibas dollar. “What do you mean? Dollar is going up? But the fundamentals are awful!”, http://www.kitco.com/ind/Radomski/nov072008.html. Akibat rontoknya bursa saham dunia, banyak investor mengalihkan portofolio saham menjadi emas, dengan membawa akibat: harga emas rontok. Barangkali ini bukan hal permanen, tetapi juga bukan sebentar, karena sejak Maret 2008 emas mulai turun diterjang “uang dari angin”.

emas_1Presiden SBY dalam suatu orasi menyerukan kampanye melawan ‘economic bubble’ dan mengusulkan penggunaan mata uang secara global. Memang saat ini segala sesuatu yang memiliki perbedaan nilai bisa dipermainkan. Tidak hanya uang yang diper-uang-kan, undang-undang per-uang-an juga bisa diuang-uang-kan. Tentu urusan geopolitik akan menjadi rumit. Bagaimana bila globalisasi mata uang ini diterjemahkan menjadi globalisasi harga minyak? Harga minyak Singapura dan Indonesia diambil titik tengah? Boleh jadi Istana Merdeka dibakar massa.

Nah, klimaks dari masalah angin ini tentu ‘state of the art’ kapitalisme, yaitu pasar modal. Bila uang kertas adalah uang dari angin, saham adalah angin dari angin. Mengapa begitu? Pada dasarnya saham adalah hak kepemilikan atas perusahaan. Hak yang tidak berwujud, diperjualbelikan dengan cara-cara tidak berbentuk, dengan nilai yang datang dari langit. Berita terkini yang kita tahu, saham menyebabkan BUMI gonjang-ganjing.

Bagaimana ekonomi syariah bisa ‘mengharamkan’ pasar modal? Kenyataan yang terjadi, saham pun ada yang berbasis syariah. Tidak ada pembungaan atas uang, termasuk menentukan nilai di masa depan. Pendapat saham itu judi pun lemah. Pada intinya, terjadi transaksi jual beli di sini, meskipun itu berupa hak kepemilikan dan berlaku sangat cepat. Harga terbentuk akibat penawaran dan permintaan. Membeli saham dan berharap nilainya naik, tidak ada bedanya dengan membeli emas dan berharap nilainya naik.

Berbagai wacana memang mempunyai dasar masing-masing, tapi perlu diselaraskan dengan kejadian mutakhir saat ini. Demikian semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s