PNS vs Non PNS

Hare gene masih mau jadi PNS? Ngga’ bakalan bisa beli rumah 3 dan seisinya :p Kalaupun ngotot ujung2nya bakal jadi calon koruptor kekeke… atau kreditor seumur hidup

Bagi yang traumatis dengan orang tua PNS, saya sejatinya tidak mengerti hal itu terjadi. Ibu + Bapak saya juga PNS hingga pensiun, dengan gaji (standar) yang tidak jauh dari ilustrasi di topik ini. Kehidupan juga normal-normal saja. Namun begitu, baik orang tua + anak2nya tidak menjadi traumatis, apalagi menganggap hidup yang ada selama ini menyedihkan. Bagi mereka, swasta atau PNS sama saja, tinggal bekerja sebaik-baiknya, sebenar-benarnya.

Perlu dipikirkan dengan jernih, bila hidup menyedihkan mengapa bertahan hingga puluhan tahun? Saya kasihan dengan mereka yang hidup tanpa pilihan, seperti mati segan hidup tak mau. Lalu apakah setelah hidup sedemikian lama hingga sekarang masih juga merasa menderita? Berarti tidak mengenal kata syukur. Pengabdian yang harusnya tulus menjadi kurang berarti.

Bagi yang mencap PNS dengan predikat-predikat tertentu, apalagi bawaan dari orang tua, saya tawarkan wacana ini: hidup adalah milik masa depan. Negara itu bukan milik (maaf) orang-orang tua atau jompo, kalangan pensiunan. Kehidupan mereka biarlah terkubur di masa lalu. Bila ingin memperbaiki negara, mulailah dari cara yang (sejatinya) sulit: menjadi PNS. Bekerja di swasta itu mudah, tepatnya sangat mudah. Apalagi bekerja di tempat yang kita sukai. Bagaimana bila bekerja di tempat yang tidak kita sukai, apalagi memberikan perubahan ke arah yang lebih baik? Ini tantangan besar, tantangan bagi generasi muda sebagai penerus.

Bila ingin menilai PNS, nilailah secara rasional. Tidak logis menganggap sekian juta PNS dari sekian ribu instansi mempunya wajah serupa. Sama seperti swasta, PNS juga sangat beraneka-rupa tabiat, kemampuan, pendidikan, prestasi, dan seterusnya. PNS itu menyatu dalam keseharian kita, sebagai aparat, guru, dosen, tetangga, orang tua, sanak saudara, dan seterusnya, dengan membawa perilaku masing-masing. Tak berbeda dengan swasta. Demikian pula dengan instansi, dari kelas kelurahan hingga istana negara.

Yang menyedihkan dalam context ini adalah pengabdian sebagai PNS selama berpuluh-puluh tahun yg tidak dihargai dng semestinya. That’s the points, you got it?

Ini lagu lama yang sering diulang-ulang pensiunan PNS (sakit hati?) seperti kaset rusak. Point apa yang bisa didapat dari lagu rusak tersebut? Saya kembali ke pernyataan awal, yaitu saya kasihan dengan kalian yang berjuang pontang-panting untuk hidup + sekolah, meskipun mengaku bahagia tapi hatinya sakit. Ada kesan kepribadian yang terbelah di sini. Cobalah maknai hidup lebih dalam, penghargaan apa yang ingin didapat setelah pensiun? 1 rim penghargaan? Tabungan senilai 1 triliyun? Jaminan masuk surga? Bila akhir dari banyak PNS seperti itu, berbuatlah sesuatu. Hargai diri kalian sendiri. Jangan tunggu pemerintah, apalagi malah menyalahkan pemerintah di belakang hari. Keputusan menjadi PNS, hidup sebagai PNS, berakhir sebagai PNS ada di tangan anda sendiri.

Apakah bekerja sebagai swasta itu demikian kompetitif? Sebagai yang lama di swasta ini sangat menggelikan. Swasta itu beraneka rupa, dari pekerja keras, setengah pengangguran, full pengangguran, hingga pagar makan tanaman. Cobalah membuka wawasan pikir, bidang usaha itu sedemikian banyak. Menjadi pengusaha, bila unit kerja berjalan, duit datang sendiri. Masuki dunia pasar modal, tanpa kerja bisa kaya raya. Investasi sedemikian beragam, dan seterusnya. Hal ini pada dasarnya umum, berlaku di PNS maupun swasta. Lagipula, apa definisi swasta di sini? Mereka yang tidak memiliki Nomor Induk Pegawai keluaran Badan Kepegawaian Negara? Pengamen, pengemis, penjabret, dan seterusnya, itu termasuk swasta atau PNS?

Dalam era Internet saat ini patut disyukuri bahwa informasi penerimaan CPNS lebih bergaung, sehingga menarik lebih banyak calon-calon tenaga kerja potensial. Masalah rekrutmen ini menjadi titik penting, malahan terpenting, dalam menyiapkan kader-kader bangsa yang unggul. Bila ada pihak yang mengklaim bisa masuk atau memasukkan calon tanpa test, alias KKN, ini harus diberantas. Pihak maupun calon semacam ini tidak bisa diandalkan kelayakannya, berkaca dari maraknya KKN di era Orde Baru yang menyebabkan kerusakan moral di kalangan PNS. Biarkan segalanya berjalan dengan kompetisi yang fair, adil dan bertanggungjawab.

Seberapa menarik menjadi PNS di ‘hare gene’ ? Cukup beragam dan cukup kompetitif. Salah satu sumber, Indonesia.go.id, menyebut 270 posisi diperebutkan oleh 10.081 peserta, alias 1:37. Departemen lain boleh jadi lebih sulit, misalnya Departemen ESDM atau Departemen Keuangan. Membludaknya peserta bisa dari berbagai sebab, misalnya syarat pendaftaran yang lebih mudah (biasaya hanya pendidikan formal) ataupun sosialisasi yang lebih luas. Bagaimanapun, Departemen Luar Negeri lebih dikenal daripada PT Angin Ribut misalnya. Pada akhirnya, dengan tingkat keikutsertaan yang tinggi, akan lebih efektif menjaring calon-calon yang berkualitas.

Dengan makin terserapnya tenaga-tenaga muda berpendidikan dan berketerampilan, bukan saatnya lagi melihat PNS sebagai tenaga kerja yang loyo. Semakin meningkatnya kuantitas maupun kualitas pendidikan di tanah air, hasilnya tidak hanya dinikmati oleh kalangan swasta, tapi juga instansi pemerintah. Hal ini sejalan dengan rasionalisasi maupun pembaharuan pegawai, dengan contoh ekstrimnya adalah pensiun dini bagi ‘golongan tua’. Memang terdapat tantangan birokrasi yang merupakan PR besar untuk ditangani, baik oleh pemangku kepentingan maupun pelaksana di lapangan. Namun apapun, masuknya tenaga-tenaga unggul ini diharapkan membawa angin segar bagi pemerintahan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s