Merindukan Pancasila

dn> Sebutkan kemungkinan kesalahan metodologi dari pooling yang
dn> dilakukan Kompas! hehehehe….ujian phobia…

Memang semua hal sekarang perlu dikritisi, apalagi media seperti Kompas tidak
berimbang dalam menyampaikan pemberitaan. Polanya mudah terlihat:
liberalisasi + sekulerisasi. Lihat bagaimana dukungan Kompas terhadap
seniman selangkangan seperti Ayu Utami. Dulu menjelang eksekusi Tibo juga
begitu, pincang.

Logika terbalik malah dipakai, misalnya RUU Sisdiknas. Kompas menebar isu, pemberian guru agama yang sesuai dengan keyakinan siswa adalah melanggar HAM yayasan. Ini aneh tapi nyata. Yang celaka, opini pincang tidak sekedar ada di halaman opini, tapi masuk ke berita. Pelintiran-pelintiran media ini yang berbahaya.

dn> soal pancasila?? bubarkan FPI, dan tentunya ahmadiyah!!!

Di TVOne kira-kira jam 7-an, diwawancarai Panglima FPI. Pada dasarnya
semua sepakat bahwa kekerasan tidak membawa manfaat, tapi kita bisa
cermati beberapa pendapat ybs yang cukup rasional. Tidak dikutip persis, ada
tambahan-tambahan opini.

  • Gus Dur itu buta, mengapa orang yang bisa melihat minta pendapat
    terhadap orang buta? Sebagai saksipun tidak valid dan tidak masuk
    akal. Ini yang gila siapa?
  • Wacana pembubaran FPI pernah dilontarkan Gus Dur ketika jadi
    presiden. Yang terjadi kemudian, Gus Dur malah lebih dulu bubar.
  • Jamaknya organisasi massa, tidak selalu semua tindakan bawahan itu
    atas koordinasi di tingkat atasnya. Contoh gampangnya BEM, apakah
    sepak terjang mereka mewakili universitas ybs? Jadi bila FPI mengklaim
    itu bukan perintah mereka, sah-sah saja.
  • Ketika Ahmadiyah minta dibubarkan, yang menodai ajaran Islam dan
    difatwa sesat oleh MUI, malah dianggap pengekangan, melanggar HAM dan
    UUD. Ketika anggota FPI melakukan kekerasan, malah minta dibubarkan.
    Hak untuk berserikat juga dijamin UUD. Lihat betapa konsisten untuk
    tidak konsisten.
  • Gus Dus itu antek-antek Yahudi, dalam hal ini Israel. Yang tidak bisa
    dipahami, Israel hingga detik ini tetap bercokol di Palestina dan
    menyerang umat Islam. Selain buta mata, Gus Dur juga buta hati.

Menyangkut Pancasila, apakah Pancasila sekarang masih relevan sebagai dasar
negara? Kenyataannya, nilai-nilai Pancasila tidak membumi, tidak
dipraktekkan sehari-hari. Baik itu 30 tahun yang lalu atau saat ini. Bisa
diperdebatkan bila Pancasila adalah alat pemersatu bangsa, wong
dipraktekkan saja tidak. Yang lebih membumi sebagai alat pemersatu
adalah Bahasa Indonesia.

Buat media seperti Kompas, dengan semangat liberalisasi dan sekulerisasi,
Pancasila sekedar dijadikan tameng untuk berlindung dari dominasi
mayoritas. Demikian pula Gus Dur, yang bilang ‘FPI menodai Pancasila’,
sekedar tameng untuk agenda-agenda terselubung. Btw, bukan provokasi tapi
sekedar rasionalisasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s