Pemilihan Bahasa Dalam Web Programming

B> kendala implementasi, jadi malah buang2 waktu untuk belajar bhs
B> baru. Belajarnya aja seminggu, belum koding riilnya.

imageItu untuk memantapkan pondasi programming di web, bukan sekedar PHP. Dari sekian bahasa yang saya pakai, PHP adalah yang paling mudah, tidak perlu belajar, langsung pakai, alias detik itu juga. Apa dulu lupa 5 tahun di bangku kuliah? Buang-buang waktukah? Bahaya juga bila pencerahan seminggu itu dinilai buang-buang waktu, sedangkan minggu-minggu lainnya lewat sia-sia akibat salah langkah.


B> Keberatan saya di web-based mainstream saat ini justru itu:
B> scripting. Dalam beberapa kasus, scripting malah bisa menimbulkan
B> masalah, terutama  di performance. Yah, tentu semua ada baik

Saya tidak mengerti yang dimaksud. Bila mencari kecepatan, jangan memakai Delphi atau Pascal, yang perlu dipermak dulu agar optimal (ingat prgming contest tempo hari?). Gunakan C. Kombinasi adalah yang paling tepat, gunakan mayoritas dengan PHP, dan C di bagian-bagian yang perlu. Btw, apakah yang anda bangun itu lebih besar ketimbang friendster dengan 70.000.000 user?

Barangkali kita perlu membuat manivesto sebagai programmer, yaitu bebas dari bahasa. Tugas kita adalah menyelesaikan masalah, bukan menambah-nambah masalah. Bahasa-bahasa yang tidak pas adalah bagian dari masalah. Spesialisasi kita adalah pada penguasaan masalah, bukan bahasa. Setuju teman-teman ?🙂

B> Aplikasi yang saya bangun memang gak sebesar frendster tapi saya gak
B> cukup kaya untuk membeli server sebanyak dan secanggih friendster.

Saya rasa alasan enggan dengan scripting karena alasan performance, saat-saat ini tidak relevan lagi. Kekuatan PC sekarang sangat bisa diandalkan, dengan prosesor sekian core, sekian GHz, dan sekian GB Memory. Harganya juga sangat murah. Era-era bahasa pemrograman kaku lahir dari lingkungan yang terbatas. Ketika PC XT hadir, hanya 640KB, 10MHz, dan hard disk 20MB. Generasi sekarang mungkin tertawa melihat ada PC seperti itu.

Bila Friendster, WordPress, dkk, bergantung pada PHP, Google banyak memakai Python, dst, tentu bukan karena mereka bisa membeli mesin seberapa canggihnya. Mereka juga punya uang lebih dari cukup untuk menggaji programmer dengan bahasa apapun. Di balik itu saya lihat, mereka lebih terbuka dan realistis dengan situasi. Adalah ironis di dunia IT yang sarat perubahan kita malah berlaku anti perubahan.

Saya sempat browsing-browsing sejenak, dalam kaitan performance bahasa-bahasa yang digunakan dalam web programming. bahasa scripting jelas mendominasi, yang banyak diperbandingkan untuk framework adalah Symfony/PHP, Rails/Ruby, dan Django/Python. Setiap kali ada topik mengenai benchmark, pasti muncul pro dan kontra atas hasilnya, karena banyak hal bisa diperdebatkan, alias masing-masing punya cara dan alasan yang lebih baik.

Ada komentar menarik tentang Framework Performance antara 3 bahasa di atas: "… I bet a C solution could pretty much outperform all three solutions. But only masochists would prefer such a solution. There is much more than pure performance to consider." Menurut kamus, masochists adalah orang yang senang menderita.

image Btw, kalo ingin bahasa scripting yang berlaku untuk keperluan umum dan kecepatan tinggi, jawabannya niscaya Python. Komunitas yang bermain di aplikasi matematis dan komputasi tinggi banyak memakai C dan Python. Kalo sekedar Tukang Unggah Excel dengan hit 200 s/d 300 user per hari, saya percaya PHP lebih dari cukup. Bila berganti OS tidak masalah, berganti bahasa tentu sama saja. Semudah membalik tangan.

B> Ini masih milis Delphi kan? Apa sudah ganti jadi milis PHP? Atau

Ini milis Delphi for PHP.😉

B> saya masih punya server Pentium IV dengan memori 512 MB. Tapi dengan
B> solusi native (pascal), server jadul itu masih bekerja dengan sangat
B> baik. Sementara PHP udah lemot (lemah otak) atau bahkan gegar otak

Server di kantor ada yang seperti itu s/d sekarang. Bahkan Gatra.com bertahan sejak Nov 2001 s/d Sep 2005 dengan PHP hanya PIII/548MHz, 128MB (saya cek arsip email). Bilapun kemudian diupgrade terutama karena hard disk crash + DB yang semakin besar. Masalah pokok biasanya DB, bukan PHP. Atau terkait faktor eksternal, seperti server, filesystem, jaringan, dst.

B> Sayangnya, kondisi finansial Friendster, Google, dlsb jauh berbeda
B> dengan beberapa client saya. Terlalu berlebihan memang jika kita anti

PHP itu fungsi utamanya mengolah teks untuk output web, bukan kerja berat seperti database. C pun tidak banyak berguna di sini. Mau web site bekerja cemerlang? Perbaiki kerja server DB. Memakai PHP bukan tanpa pertimbangan ‘performance in mind’. Sejauh ini belum ada client yang dipaksa mengganti server karena memakai PHP.

B> File excel yang diolah bukan sekedar berisi puluhan baris, tapi bisa
B> ribuan baris. PHP gak cukup mampu untuk itu, setidaknya di zona

Bila sempat, mungkin bisa dijelaskan seperti apa kerja berat dengan ribuan (dikit banget?) baris tersebut, hingga PHP kewalahan. Silakan lewat blog saja. Kalo cara saya menangani itu, bisa lewat operasi DB (didump dulu ke DB), kerja secara batch, atau meminjam tenaga-tenaga bantuan yang lain, seperti Python, Perl, atau C. FPC juga OK, tapi belakangan makin gimana gitu.

B> Jika Mpu ingin mengajak rekan2 disini untuk beralih ke PHP,
B> rasanya kok kurang menghormati komunitas ini, terlepas banyak

Jangan lupa, PHP pun masuk keluarga Delphi. Kalo ini sih bukan salah bunda mengandung. Toh Delphi tetap masih punya tempat, setidaknya aplikasi-aplikasi dekstop. Maksud hati hanya mencermati perkembangan mutakhir dunia programming. Kalo berkenan silakan, tidak ya lupakan.

IG> Salah satu yang paling mendasari ketertarikan saya terhadap Ruby
IG> adalah syntax-nya yang really cool, really simplifying, sangat

Saya belum lihat-lihat ruby, tapi bila sintaknya mantap dan konsisten, itu permulaan yang baik. Pertama kali ketemu Python, kaget juga, bahwa indentasi digunakan sebagai pemisah blok. Jadi ingat bahasa jadul Cobol. Alih-alih menghemat ketikan, ini justru bikin jengkel. Belum lagi hal-hal implisit yang begitu banyak, entah sintaknya, parameter, module, dst. Program jadi susah ditelusuri, karena hal-hal serba tersirat ini. Di bagian tutorial, malah ada ‘Using Python as a Calculator’, lihat saja, ‘2+2’, bahasa apa yang membolehkan sintak seperti ini?

Kalo ingat Pascal (biar nyambung sama milis), kita tahu hal yang tidak konsisten seperti ‘if .. then .. else ..;’, kenapa tidak seperti C yang ‘if .. ; else ..;’, maksudnya pemisah statement (;) tidak selalu perlu. Seperti juga kritik atas Delphi tentang keyword interface, yang bermakna ganda. Jadi ingat Perl, yang salah satu prisipnya ‘banyak jalan menuju Roma’. Satu keyword bisa bermacam-macam sintaks. Hasilnya adalah pusing kepala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s