Tak Ada Subsidi BBM

Kamis, 29/05/2008 13:02:40, IndoWLI menulis:

menagih kepada Pemeritah kapan BLT ini akan dihentikan dan apa program konkrit yang akan dilakukan untuk mengurangi angka kemiskinan, pengangguran, membuka lapangan kerja, menggelontorkan KUK dan program lain sejenis yang langsung menyentuh sektor riil

Bukankah rencana BLT memang sudah jelas, yaitu 18 bulan. Konsep seperti KUK juga sudah ada, yaitu Kredit Usaha Rakyat (KUR). Ini dilakukan lewat BRI, yaitu pinjaman sebesar Rp 5 juta tanpa jaminan sebagai modal usaha. Sepertinya ini mencontoh pemenang Nobel dari Bangladesh, dengan konsep Greemen Bank-nya. Anggaran KUR untuk 2008 mencapai 14,1 trilyun. Anggaran BLT + Raskin + Ketahanan Pangan untuk 2008 sebesar 18,15 trilyun. Berbagai program penanggulangan kemiskinan lain juga sudah bergulir, baik tingkat Pemda maupun nasional.

Mengapa hanya BLT yang kemudian mengemuka? Ya, saya pikir ini lagi-lagi salah kaprah media maupun penggampangan dari masyarakat sendiri. Bahkan ada yang menganjurkan BLT diganti program padat karya, padahal tujuan keduanya berbeda. Apakah ada yang mau dibayar kerja 100rb/bulan dalam program padat karya, yang sebenarnya juga program buang-buang duit?

Menarik kata penutup dari Jubir Presiden, Andi Mallarangeng, yaitu perubahan paradigma dari subsidi barang menjadi subsidi orang. Menurut saya, memberikan subsidi terhadap BBM itu adalah pekerjaan gampangan, sama gampangnya dengan menaikkan harga BBM. Efektifitasnya dipertanyakan, karena semua pihak tanpa pandang bulu ikut menikmati (yang kita tahu juga menimbulkan ketidakadilan). yang lebih rumit, adalah subsidi sedemikian rupa sehingga orang yang berhak yang menerima.

Kita memang harus merubah paradigma. Seperti dibilang, pasar bebas itu memang tidak terhindarkan. Buat apa membohongi diri dengan memberi subsidi BBM, yang berakibat rakyat tidak realistis, yang celaka bahkan menciptakan kesenjangan sosial. yang perlu diarahkan adalah subsidi tepat sasaran. Misalnya pada sektor pendidikan, kesehatan masyarakat, maupun transportasi. Seperti KRL Ekonomi yang menikmati subsidi, saya berani jamin kalangan atas pasti tidak bersedia naik, karena memang ‘dirancang’ untuk masyarakat menengah bawah. Hal-hal seperti ini yang perlu diperbanyak, sehingga tercipta keadilan sosial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s