Suatu hari yang melegakan. Mengapa begitu? Karena per 16 Maret 2009 ini secara deklaratif kartu kredit dengan sejarah paling panjang, yaitu Citibank, ditutup via telpon. Menutup kartu kredit berarti menutup lubang untuk berhutang. Tanpa hutang hidup mudah-mudahan lebih terkendali, tidak konsumtif, secara tidak langsung lebih menentramkan hati. Mudah-mudahan begitu.
Perkenalan pertama dengan Citibank terjadi sekitar tahun 2003. Silih berganti berganti-ganti jenis kartu hingga tahun 2009 ini. Sebabnya bisa karena keinginan sendiri maupun godaan marketing yang mengusik hati. Tercatat ada 4 jenis kartu seperti berikut.
- Clear Card, sejak 2003 s/d 2005.
- Choice Card, sejak 2005 s/d 2009.
- Telkomsel Card, sejak 2007 s/d 2008.
- Gold Card, sejak 2008 s/d 2009 (masih aktif, tinggal tunggu waktu).
Pengalaman buruk dengan Citibank tentu bermacam-macam. Mulai dari telpon sales yang menjengkelkan, data pribadi yang tersebar luas (diduga terutama dari sini), terbawa ikut asuransi jiwa, ‘harus’ ikut credit shield, denda akibat terlambat bayar (baik sengaja maupun lupa), hingga rupa-rupa biaya yang menggelayuti setiap bulan. Belum lagi bunga Citibank yang sangat tinggi, 3,25% sebulan, atau 39% setahun. Tidak ada investasi lewat bank dengan bunga selangit seperti ini.
Hal menguntungkan memiliki kartu kredit Citibank tentu ada, terutama bisa berhutang bila belanja kebutuhan sehari-hari di supermarket maupun belanja barang yang tidak sanggup tunai, misalnya laptop. Kemudahan gesek ini sangat menggoda untuk hidup konsumtif, berbelanja melebihi kemampuan kantong. Membeli barang tanpa didasari kebutuhan tetapi sekedar keinginan. Fasilitas Citibank 1 Bill yang membantu menalangi pembayaran tagihan bulanan, secara pasti membuat saldo terhutang tidak pernah nol. Bila tanpa disiplin tinggi dalam membayar, hal ini bisa menjadi jeratan hutang tiada akhir.
Mengakhiri hubungan dengan Citibank bukanlah hal mudah. Pertama-tama tentu membayar lunas seluruh tagihan, yang kian hari kian bertambah. Ditambah lagi godaan atau malah paksaan dari sales ketika proses penutupan via telpon. Segala macam cara dilakukan oleh sales tersebut agar pemilik kartu mengurungkan niatnya. Bisa dengan pemberian diskon, penghapusan iuran tahunan, penurunan bunga, penambahan limit kredit, hingga pemberian kartu baru. Sungguh ajaib memang ketika ingin menutup kartu yang ada malah ditawari kartu yang baru.
Pada November 2008, terjadi perdebatan cukup alot saat ingin menutup kartu Telkomsel. Kartu ini dulu diterima akibat telpon yang bertubi-tubi dari sales dan ingin ditutup karena sudah berjalan 1 tahun (takutnya ada iuran tahunan). Setelah berdebat lalu apa? Mati Telkomsel, hiduplah Gold, hanya barter kartu. Begitu juga Choice Card yang saat itu ingin ditutup. Setelah capek ‘berdiskusi’ akhirnya penutupan ditunda. Penundaan yang berbahaya, mengingat tidak lama setelah itu sempat ada insiden terlambat bayar (akibat lupa belum ditutup dan tagihan telpon masuk) dan saldo kembali membengkak akibat dipakai lagi.
Dasar raja kartu, ketika ingin menutup per Maret ini, kejadian yang hampir sama terulang lagi. Ditawari kartu Gold sebagai pengganti kartu yang ditutup. Entah salesnya yang edan (komisi) atau sistem rekrutmen Citibank yang memaksa begitu. Padahal kartu Gold sudah dimiliki bahkan tidak terpakai. Namun harus diakui, terjadi penurunan agresivitas dalam menghambat penutupan kartu. Dihambat atau tidak, kereta pasti jalan terus. Sepertinya mereka punya riwayat nasabah.
Demikianlah Citibank, riwayatmu memang harus berakhir sampai di sini.
misa berkata
keputusan yang sangat bijak, sy juga pernah mengalami punya beberapa kartu kredit dan kerepotan sendiri karena tidak disiplin. tapi syukurlah sekarang tinggal punya 1 kartu kredit dan digunakan hanya buat jaga-jaga, jadi tidak dibawa-bawa di dompet. kalo emang urgent banget baru digunakan.